Matamata.com - Siapa yang tak kenal dengan Salmafina Sunan? Putri Sunan Kalijaga ini tengah menjadi buah bibir.
Terlepas dari itu, Salmafina Sunan merupakan wanita yang kerap tampil memukau dalam berbagai kesempatan.
Namun siapa sangka, dibalik penampilannya yang selalu cantik ternyata Salmafina Sunan mengaku malas sisiran.
Bahkan saat sedang pergi bersama sang ibu, wanita yang kerap disapa Alma ini juga masih enggan untuk sisiran.
"Si domba (panggilan sayang terbaru dari ibu) belum sisiran udah jalan jalan @heidysunan.''
Salmafina Sunan mengaku bahwa dirinya hanya akan sisiran di hari Sabtu.
''Maklum salma sisiran kalo hari sabtu aja. Kalo ada jasa Go-sisiran baru deh tiap hari," tulis Salmafina Sunan.
Duh malas sisiran aja cantik, gimana kalau rajin ya?
Berita Terkait
-
Rahasia Lava Spa! Tak hanya Relaksasi Tubuh dan Pikiran Sehat, tapi Bikin Kulit Cerah
-
Nama Farel Prayoga Dicatut untuk Penipuan, Manajer Beri Penjelasan Tegas: Hati-hati Modus Baru!
-
Nathalie Holscher Dituding Harus Minta Maaf karena Video Saweran, Ini Jawabannya: Saya Salah di Mana?
-
Hamil Anak Kedua, Potret Terbaru Nikita Willy Pamer Baby Bump Dipuji Selangit: Bumil Cantik!
-
Nyaris Besanan, Sunan Kalijaga dan Gilbert Lumoindong Pernah Tukar Pikiran: dari Hukum sampai Urusan Setan
Terpopuler
-
Kasus Korupsi Chromebook: Pihak Nadiem Makarim Bakal Seret Google ke Persidangan Tipikor
-
Kunjungan Prabowo ke Kalsel: Hambatan Lahan Sekolah Rakyat Langsung Beres!
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
Agen Asuransi Teriak Pajak 'Kurang Bayar' Membengkak, PAAI Desak Kemenkeu Beri Keadilan
-
5 Rekomendasi Kulkas Tahan Lama untuk Rumah di 2026
Terkini
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
5 Rekomendasi Kulkas Tahan Lama untuk Rumah di 2026
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Happy Catchy Studio dan Keluarga Resmi Luncurkan Didi Kempot AI, Inovasi Digital Pelestarian Warisan Budaya
-
Pameran 'SUARA Indonesia!' Hadir di Yogyakarta, Refleksi 20 Tahun Konvensi UNESCO tentang Keberagaman Budaya