Matamata.com - Awal bulan menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh Anita, Bagaimana tidak? Sebab biasanya awal bulan adalah waktunya sang suami, Ferdi, pulang dari Surabaya.
"Waktunya melepas rindu," batin Anita. Maklum, pasangan suami istri muda yang terpisah oleh jarak. Ferdi bekerja di sebuah pabrik tekstil di Surabaya, sedangkan ia tinggal di Majalengka.
Usia pernikahan mereka yang baru menginjak satu setengah tahun masih mesra dan adem-adem saja. Meski begitu, perselisihan-perselisihan kecil tidak terhindarkan.
Menjalani hubungan jarak jauh artinya harus berkompromi dengan rindu, waktu dan kepastian. Karena itulah awal bulan juga mendebarkan bagi Anita, sebab ia kadang belum tentu menerima kepastian kepulangan Ferdi.
Karena jabatannya yang cukup krusial di salah satu departemen, ia terkadang tidak bisa pulang ke Majalengka untuk mengatasi pekerjaan yang belum beres.
Nah, dengan tidak jadi pulangnya Ferdi, biasanya merembet ke masalah baru, Anita jadi mundur untuk menerima uang gaji suami. Dirinya pun kerepotan cari cara berhemat. Kalau sudah begitu, emosinya jadi cepat meletup.
"Dek, aku ndak bisa pulang. Tapi kuusahakan pulang bulan depan," ujar Ferdi di ujung telepon.
"...Berarti berhemat lagi ya, uang gaji belum bisa kuberikan," tambahnya.
Anita hanya bisa menghela nafas. Bagaimana lagi, mereka berdua tidak punya nomor rekening. Yup, ia dan suami masih memegang prinsip "kuno".
Mereka termasuk masyarakat Indonesia yang belum ‘unbankable‘ dan masih memanfaatkan cara-cara informal untuk melakukan pembayaran hingga pengiriman uang.
Sebenarnya Anita kesal harus mundur lagi menerima gaji suami. Tapi di sisi lain ia mengkhawatirkan keselamatan suaminya yang harus membawa uang dalam jumlah banyak saat perjalanan.
Pikirannya pun bergelantungan adegan-adegan mengerikan kalau Ferdi dicopet, diancam dengan pisau dan sebagainya. "Andai saja ada cara lain untuk terima uang gaji...," gumam wanita berusia 28 tahun itu.
Saat sedang berpikir, ia teringat kalau minyak di dapur sudah habis, padahal tempe belum digoreng. Dengan cepat ia menyambar dompet dan pergi ke Alfamart terdekat.
Ketika sudah sampai, matanya tertuju pada pamflet besar di samping pintu masuk bertuliskan "TrueMoney". Perpaduan warna merah dan oranye di logo tersebut mencuri perhatiannya.
"Mbak, TrueMoney itu apa sih?" tanya Anita pada petugas kasir saat hendak membayar minyak.
"Ohh, itu alat pembayaran elektronik, Bu. Bisa buat isi ulang pulsa, token PLN, pembayaran tagihan, transfer uang," jawab petugas kasir.
Mendengar kata "transfer uang", Anita langsung tertarik.
"Kalau pakai TrueMoney, ibu tidak perlu punya nomor rekening. Asalkan si pengirim telah jadi member TrueMoney sudah bisa melakukan transfer cash to cash," lanjut petugas kasir tersebut.
"Lho, kalau begitu terus bisa terima uangnya gimana?" tanya Anita.
"Si penerima nantinya cukup menunjukan kode bukti transferan pada kios dan agen TrueMoney seperti di sini. Lalu uang transferan langsung bisa diambil. Kalau ibu tertarik, bisa download aplikasinya dulu di Playstore..... Ini saja Bu barangnya? 11 ribu rupiah, mau pakai kantong plastik?"
Dalam perjalanan pulang, Anita masih terbayang penjelasan petugas kasir tadi. Menurutnya TrueMoney bisa jadi solusi kalau suami tercintanya harus tertunda pulangnya.
"Kalau begini kan enak," ujar Anita sambil membuka smartphone dan mendownload aplikasi TrueMoney. (Yasinta Rahmawati)
Berita Terkait
Terpopuler
-
Piala Asia 2026: Timnas Futsal Indonesia Gelar Dua Uji Coba Tertutup Lawan Tajikistan dan Jepang
-
Istana: RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing Masih Sebatas Wacana
-
Wamenhaj Coreat Enam Calon Petugas Haji karena Tak Jujur Soal Riwayat Penyakit
-
Prabowo Koreksi Desain IKN: Tambah Embung dan Perkuat Antisipasi Karhutla
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
Terkini
-
8 Tips Liburan Hemat ke Bandung yang Patut Dicoba
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Happy Catchy Studio dan Keluarga Resmi Luncurkan Didi Kempot AI, Inovasi Digital Pelestarian Warisan Budaya
-
Pameran 'SUARA Indonesia!' Hadir di Yogyakarta, Refleksi 20 Tahun Konvensi UNESCO tentang Keberagaman Budaya