Matamata.com - Harvey Moeis jadi salah satu sosok yang disorot semenjak menikah dengan Sandra Dewi.
Pesonanya yang ganteng pun kerap menjadi salah satu hal yang dikomentari netizen.
Baru-baru ini Harvey Moeis tampil mengenakan beskap Jawa yang membuat netizen ramai-ramai memuji.
Penasaran nggak nih? Simak deh rangkuman Matamata.com di bawah ini :
1. Pakai beskap
Potret Harvey Moeis bareng Sandra Dewi dengan beskap Jawa bikin pangling ya?
2. Lengkap dengan blangkon
Nggak hanya pakai beskap dan kain tradisional batik sebagai bawahan, ia juga menggunakan blangkon sebagai aksesori penutup kepala juga.
3. Boomerang
Manisnya Sandra Dewi dan Harvey Moeis saat boomerang nih.
4. Selfie
Kalau yang satu ini potret keduanya yang sumringah saat selfie. Cocok abis nih berdua!
Berita Terkait
-
Harvey Moeis Melawan Divonis 20 Tahun Penjara, Kehidupan Sandra Dewi Kembali Dikulik
-
Sandra Dewi Dikabarkan Jadi Tersangka, Pengacara: Saya Tegaskan Itu Fitnah
-
Sandra Dewi Sewakan Rumahnya dengan Harga Wow, Netizen Sentil soal Tapera
-
Ini Alasan Pengacara Yakin Sandra Dewi Tak Bakal Jadi Tersangka Korupsi Seperti Harvey Moeis
-
Sandra Dewi Tegaskan Apartemen Dibeli Sebelum Menikah dengan Harvey Moeis, Ini Perjanjian Pra Nikahnya
Terpopuler
-
Piala Asia 2026: Timnas Futsal Indonesia Gelar Dua Uji Coba Tertutup Lawan Tajikistan dan Jepang
-
Istana: RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing Masih Sebatas Wacana
-
Wamenhaj Coreat Enam Calon Petugas Haji karena Tak Jujur Soal Riwayat Penyakit
-
Prabowo Koreksi Desain IKN: Tambah Embung dan Perkuat Antisipasi Karhutla
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
Terkini
-
8 Tips Liburan Hemat ke Bandung yang Patut Dicoba
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Happy Catchy Studio dan Keluarga Resmi Luncurkan Didi Kempot AI, Inovasi Digital Pelestarian Warisan Budaya
-
Pameran 'SUARA Indonesia!' Hadir di Yogyakarta, Refleksi 20 Tahun Konvensi UNESCO tentang Keberagaman Budaya