Yuni Shara. (Suara.com/Wahyu)
Matamata.com - Tak hanya karena gaya stylish Yuni Shara saat banjir saja yang jadi sorotan, ia juga harus mengungsikan ibunda.
Pasalnya, banjir Jakarta kali ini menyebabkan rumahnya mati lampu dan air.
Momen mengungsikan ibunda tersebut pun ia abadikan dan jadi sorotan netizen.
Penasaran? Langsung simak yuk rangkumannya oleh Matamata.com :
1. Ibu Yuni Shara
Potret ibunda Yuni Shara sebelum diungsikan, menunggu sekoci di depan rumah.
2. Naik sekoci
Ibu Yuni Shara pun diungsikan naik sekoci, Yuni Shara tampak mengantarkannya.
3. Bareng adik
Sementara itu, adiknya juga tampak ikut mengungsi bersama sang ibu.
4. Menenangkan ibu
Yuni Shara pun menenangkan ibundanya saat sedang naik sekoci.
Berita Terkait
-
Ibunda Luna Maya Disorot: Fasih Berbahasa Arab, Begini Cerita Desa Maya Waltraud Maiyer Soal Keyakinan
-
Respons Tak Terduga Ibunda Luna Maya Saat Maxime Bouttier Melamar: Ngapain Kawin?
-
Cici Paramida dan Siti KDI Berduka: Sang Ibunda Wafat Setelah Dirawat di ICU Pada Ramadan
-
Ibu Muhammad Fardana Tanggapi Kandasnya Hubungan Sang Anak dengan Ayu Ting Ting, Ekspresinya Disorot: Kaya Nahan Nangis
-
Nangis di Depan Eva Manurung usai Ditangkap, Virgoun Minta Ampun: Maafkan Aku Nakal
Terpopuler
-
Piala Asia 2026: Timnas Futsal Indonesia Gelar Dua Uji Coba Tertutup Lawan Tajikistan dan Jepang
-
Istana: RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing Masih Sebatas Wacana
-
Wamenhaj Coreat Enam Calon Petugas Haji karena Tak Jujur Soal Riwayat Penyakit
-
Prabowo Koreksi Desain IKN: Tambah Embung dan Perkuat Antisipasi Karhutla
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
Terkini
-
8 Tips Liburan Hemat ke Bandung yang Patut Dicoba
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Happy Catchy Studio dan Keluarga Resmi Luncurkan Didi Kempot AI, Inovasi Digital Pelestarian Warisan Budaya
-
Pameran 'SUARA Indonesia!' Hadir di Yogyakarta, Refleksi 20 Tahun Konvensi UNESCO tentang Keberagaman Budaya