Matamata.com - Kumara, Band instrumental asal Yogyakarta mengumumkan perilisan single perdana mereka yang berjudul “Dari Ketiadaan”.
Karya ini menghadirkan perpaduan berbagai aliran musik mulai dari modern-psychedelia, jazz, post-rock, ambient, hingga ethno-fusion sekaligus menjadi pernyataan identitas musikal Kumara dalam memasuki lanskap musik Indonesia.
Proses kreatif “Dari Ketiadaan” dilandasi oleh semangat eksplorasi dan eksperimentasi musik serta suara.
Penelitian musik etnis angklung paglak Banyuwangi yang dilakukan oleh Arya Seta (gitaris) menjadi awal dari penciptaan karya ini.
Ia terpukau dengan suara dan kerancakan dari ensemble etnis tersebut, sehingga mendorongnya untuk dapat melibatkan sample rekamannya ke dalam aransemen band kontemporer.
Eksplorasi suara juga dilakukannya dengan melibatkan suara hasil field recording pantai selatan Yogyakarta.
Luasnya bentangan pantai selatan Yogyakarta dan kesadaran tubuh pada elemen bunyi bising pantai membuat Arya menemukan kebisingan dan kehampaan di waktu yang bersamaan.
Suara kebisingan yang terekam ini kemudian dimanipulasi secara digital untuk menjadi nada maupun suara latar dari lagu ini.
Arya mengajak Stevano Wicaksono (drum), Giri Dhyaksa (bas), dan Ilham (kibord), untuk bersama-sama mengolah ‘cetak-biru’ lagu ‘Dari Ketiadaan’ dalam sebuah sesi rekaman langsung bertajuk Kumara Live Recording at Damarasha Coffee.
Dengan semangat swakriya, sesi rekaman langsung menjadi momen belajar Kumara sebagai sebuah band yang baru merintis.
Hasil rekaman suara drum akustik dari sesi rekaman langsung ini diolah menjadi suara drum yang dipakai dalam rilisan baru ini. Kumara berusaha untuk membuktikan kehampaan dapat menciptakan ruang baru dalam berkarya.
‘Dari Ketiadaan’ menjadi representasi upaya unjuk keberanian di tengah kekosongan diri. Kumara melihat situasi kekosongan/ketiadaan sebagai ruang yang perlu diisi dengan penuh keyakinan dan keberanian.
Semangat yang selaras dengan arti nama ‘Kumara’ yang berarti ‘Suara dari Ketiadaan’.
Debut Single Kumara, “Dari Ketiadaan”, dapat dinikmati di berbagai streaming platform mulai tanggal 19 Desember 2025.
Tentang ‘Kumara’ :
Kumara berarti ‘suara dari ketiadaan’. Kata tersebut dipilih menjadi nama dari band instrumental asal Yogyakarta ini sebagai bentuk harapan untuk menyuarakan situasi hampa yang dihadapi oleh masing-masing anggotanya.
Memulai perjalanan musiknya sejak tahun 2024, Arya Seta (gitar), Stevano Wicaksono (drum), Giri Dhyaksa (bas), dan Ilham (kibord) menyatukan kebisingan dari ruang hampa mereka di dalam Kumara.
Dalam perjalanan berkaryanya, Kumara menghadirkan eksplorasi musik yang meramu psychedelic, post-rock, ambient dan jazz, berpadu dengan nuansa etnik Indonesia.
Berita Terkait
-
Sindir Koruptor, Adong Silalahi Yakin Lagu 'Maling Teriak Maling' bakal Sukses
-
Kemenkum Ingatkan Penggunaan Lagu Tema Ajang Olahraga Wajib Patuhi Hak Cipta
-
Pertama di Asia, Daft Funk Live Hadir di Jakarta Jadi Persembahan Tribute Daft Punk
-
Indosiar Buka Audisi 'Band Academy', Siap Lahirkan Talenta Muda di Industri Musik
-
Sambut Lebaran Idul Fitri 1447 H, Musisi Rucky Markiano Luncurkan Lagu 'Dosa'
Terpopuler
-
Pariwisata Berkelanjutan KEK Mandalika, ITDC Targetkan Tanam 15.000 Mangrove di 2026
-
Viral Merokok dan Main Gim saat Rapat Stunting, Anggota DPRD Jember Disidang Etik Gerindra
-
Aturan Buang Sampah Palembang: Pelanggar Didenda Rp500 Ribu Mulai Hari Ini
-
Menko Pangan Targetkan Pembangunan 2.000 Kampung Nelayan di Indonesia pada 2026
-
Penebusan Pupuk Subsidi Naik 36 Persen, Pupuk Indonesia Genjot Optimalisasi Distribusi
Terkini
-
Film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" Resmi Menguras Air Mata di Bioskop Mulai Hari Ini
-
Film Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan Bikin Penonton Jogja Menangis Haru
-
The Popstival Vol. 2 Hidupkan Kembali Euforia Festival di Depok yang Lama Dirindukan
-
Film 'Kupilih Jalur Langit' Resmi Tayang di Bioskop Indonesia
-
Rumah Perubahan Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Waktunya STARt Bersama TikTok Shop Tokopedia