Matamata.com - Puluhan ribu perempuan dari 40 organisasi masyarakat dan komunitas di Indonesia bersatu dalam aksi damai bertajuk One Million Women for Gaza, Minggu (6/7). Mereka menyerukan boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina.
“Aksi ini adalah bentuk partisipasi kita untuk menghentikan aliran dana yang digunakan membeli amunisi oleh pihak Israel. Dengan tidak mengonsumsi produk mereka, kita sudah ikut memperlambat langkah mereka,” ujar Finda Musfindayani, perwakilan gerakan solidaritas perempuan untuk Palestina, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (7/7).
Selain sebagai bentuk perlawanan terhadap genosida yang dialami rakyat Palestina, Finda yang juga Koordinator Muslimah Bogor Raya menegaskan bahwa gerakan boikot dapat memberi dampak positif bagi perekonomian nasional.
“Kita juga dapat meningkatkan pemasaran produk-produk UMKM negara kita,” tambahnya.
Aksi damai yang digagas oleh PP Wanita Islam bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARIBP) Perempuan ini tidak hanya menghadirkan orasi dan doa bersama, tetapi juga kegiatan edukatif dan kultural seperti pertunjukan puisi, musik religi, dan testimoni dari penyintas agresi militer maupun pegiat kemanusiaan.
Kampanye #GantiProduk menjadi salah satu sorotan utama dalam aksi ini. Gerakan tersebut mengajak masyarakat untuk meninggalkan produk-produk yang mendukung pendudukan Israel dan menggantinya dengan produk halal lokal, terutama dari sektor UMKM perempuan. Inisiatif ini dimaksudkan untuk memperkuat jaringan ekonomi alternatif yang lebih beretika dan berkelanjutan.
Finda menambahkan, keikutsertaan perempuan dari berbagai latar belakang—mulai dari guru, pelajar, mahasiswa, pengemudi ojek online perempuan, hingga tokoh nasional dan influencer—menunjukkan bahwa boikot adalah strategi damai yang bermartabat.
Dengan pendekatan edukatif dan aksi damai, para peserta berharap gerakan ini dapat membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mendukung Palestina melalui pilihan konsumsi sehari-hari, bukan sekadar lewat doa atau demonstrasi. (Antara)
Berita Terkait
-
Gubernur Sultra Desak Perusahaan Tambang Berdayakan UMKM Lokal, Tak Hanya Sekadar MOU
-
Publik Marah Saipul Jamil Tak Kunjung Minta Maaf: Bener-bener Nggak Tahu Malu
-
Ria Ricis Dituduh Dukung Israel, Ini Buktinya
-
Heboh Diboikot Netizen, Ria Ricis Malah Blak-blakan Lagi Nyari Pendamping
-
Ria Ricis Mendadak Kena Boikot Netizen, Ini Alasannya
Terpopuler
-
Mensos: Angkatan Pertama Sekolah Rakyat Siap Luluskan 453 Siswa Tahun Ini
-
Revitalisasi Sekolah 2026: Mendikdasmen Kucurkan Rp2,6 Triliun dan Gandeng Starlink
-
Menteri LH Dorong PSEL Palembang Mampu Olah 1.000 Ton Sampah per Hari
-
The Popstival Vol. 2 Hidupkan Kembali Euforia Festival di Depok yang Lama Dirindukan
-
Cegah Kekerasan Seksual, DPR Minta Kemenag Perketat Pengawasan Pesantren
Terkini
-
Mensos: Angkatan Pertama Sekolah Rakyat Siap Luluskan 453 Siswa Tahun Ini
-
Revitalisasi Sekolah 2026: Mendikdasmen Kucurkan Rp2,6 Triliun dan Gandeng Starlink
-
Menteri LH Dorong PSEL Palembang Mampu Olah 1.000 Ton Sampah per Hari
-
Cegah Kekerasan Seksual, DPR Minta Kemenag Perketat Pengawasan Pesantren
-
TNI AD Kolaborasi dengan Kemenko Pangan, Ini 3 Fokus Utama Pengelolaan Sampah