Matamata.com - Pemerintah Iran secara resmi akan menuntut kompensasi dari Uni Emirat Arab (UEA) atas kerusakan yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS). Teheran menuding serangan tersebut diluncurkan dengan memanfaatkan wilayah kedaulatan UEA.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, melalui surat resmi yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
Iravani menegaskan bahwa tindakan UEA yang membiarkan wilayahnya digunakan untuk agresi militer terhadap negara lain dapat dikenai langkah hukum internasional.
"Langkah tersebut mencakup tuntutan kompensasi, termasuk pembayaran atas seluruh jenis kerugian yang dialami Iran," demikian bunyi pernyataan Iravani sebagaimana dikutip dari kantor berita NourNews, Kamis (19/3/2026).
Sebelumnya, Iran telah mengeluarkan peringatan keras akan menargetkan infrastruktur energi di Qatar, Arab Saudi, dan UEA. Ancaman ini merupakan bentuk aksi balasan atas serangan yang dilakukan Israel dan AS terhadap aset-aset energi milik Iran.
Di sisi lain, pihak UEA melaporkan bahwa Iran telah menyerang fasilitas pengolahan gas Habshan dan ladang minyak Bab pada Rabu (18/3). Kementerian Luar Negeri UEA melalui platform X mengecam keras tindakan tersebut.
“Serangan ini merupakan eskalasi berbahaya dan pelanggaran hukum internasional. UEA berhak sepenuhnya mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan dan keamanan nasional, serta menjaga kepentingan nasional,” tulis pernyataan resmi Kemenlu UEA.
Pihak UEA menilai serangan terhadap infrastruktur vital dan fasilitas minyak tersebut sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan serta keamanan energi global.
Ketegangan ini bermula pada 28 Februari lalu, saat AS dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah titik di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang menimbulkan kerusakan infrastruktur hingga korban sipil.
Sebagai bentuk pertahanan diri, Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
AS Tetapkan Iran sebagai Ancaman Terbesar di Timur Tengah dalam Strategi Kontraterorisme Terbaru
-
Trump Sebut Iran Mulai Melunak di Tengah Operasi Militer 'Project Freedom'
-
Macron Tegaskan Prancis Tak Ikut Operasi Militer AS di Selat Hormuz
-
China Berkomitmen Jaga Keamanan Energi Global di Tengah Krisis Selat Hormuz
-
Kelangkaan Obat di Iran Memburuk Akibat Serangan ke Fasilitas Farmasi
Terpopuler
-
Festival Raksha Loka, Ketika Akar Rumput Menjadi Solusi Krisis Iklim Global
-
Erick Thohir Buka Suara Soal Peluang Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Futsal 2028
-
Rupiah Tembus Rp17.503 per Dolar AS, Tertekan Konflik Selat Hormuz dan Isu PHK Dalam Negeri
-
Puan Ingatkan Pemerintah: Jangan Biarkan Indonesia Jadi Markas Sindikat Judi Online
-
Kenalkan Diego, Sapi 1 Ton asal Temanggung yang Dipilih Presiden Prabowo untuk Kurban
Terkini
-
Festival Raksha Loka, Ketika Akar Rumput Menjadi Solusi Krisis Iklim Global
-
Erick Thohir Buka Suara Soal Peluang Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Futsal 2028
-
Rupiah Tembus Rp17.503 per Dolar AS, Tertekan Konflik Selat Hormuz dan Isu PHK Dalam Negeri
-
Puan Ingatkan Pemerintah: Jangan Biarkan Indonesia Jadi Markas Sindikat Judi Online
-
Kenalkan Diego, Sapi 1 Ton asal Temanggung yang Dipilih Presiden Prabowo untuk Kurban