Matamata.com - Pemerintah Rusia menyatakan belum menerima undangan resmi dari Amerika Serikat untuk Presiden Vladimir Putin guna menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Amerika Serikat sendiri bertindak sebagai tuan rumah gelaran tersebut pada akhir tahun ini.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Duta Besar Khusus Kementerian Luar Negeri Rusia untuk G20 dan APEC, Marat Berdyev, dalam wawancara bersama media lokal RIA Novosti.
"Sesuai dengan tradisi G20 yang sudah lama berlaku, undangan semacam itu baru dikirimkan menjelang KTT, sekitar satu hingga satu setengah bulan sebelumnya," ujar Berdyev.
Menurut Berdyev, undangan tersebut memiliki peran protokoler yang krusial dalam forum G20. Selain sebagai bentuk penghormatan antarnegara anggota, surat undangan resmi berfungsi untuk menyampaikan detail teknis pertemuan yang akan datang.
"Intinya adalah untuk mengamankan (memastikan) acara tersebut masuk dalam agenda para pemimpin internasional," tambah Berdyev.
Sebagai informasi, Konferensi Tingkat Tinggi G20 dijadwalkan berlangsung di Miami, Amerika Serikat, pada 14–15 Desember mendatang. Hubungan diplomatik yang dinamis antara Moskow dan Washington diprediksi akan membuat isu kehadiran Putin di tanah AS menjadi sorotan global. (Antara)
Terpopuler
-
Mendag: Pemerintah Beri Subsidi Kedelai Rp2.000 per Kg Hadapi Gejolak Global
-
Ciara Brosnan hingga Jefan Nathanio, Kompak Dalami Peran Menantang di Sinetron 'Asmara Gen Z'
-
Menko Muhaimin: Makan Bergizi Gratis Prioritas untuk Masyarakat Miskin 3T
-
ARTJOG 2026 Angkat Tema Ars Longa: Generatio, Soroti Relasi Antargenerasi dalam Seni
-
AS Belum Undang Putin ke KTT G20 di Miami, Kemlu Rusia Buka Suara
Terkini
-
Mendag: Pemerintah Beri Subsidi Kedelai Rp2.000 per Kg Hadapi Gejolak Global
-
Menko Muhaimin: Makan Bergizi Gratis Prioritas untuk Masyarakat Miskin 3T
-
Prabowo Perintahkan Mendikdasmen Bentuk Tim Evaluasi Buku Pelajaran Sekolah
-
Prabowo Perintahkan Menteri ESDM Cari Energi Alternatif, Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap
-
Tembus Rp5 Triliun! Mentan Amran Genjot Cetak Sawah 80 Ribu Hektare di Papua