Matamata.com - Kepolisian Daerah (Polda) Aceh mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan turnamen sepak bola Piala Dunia 2026 sebagai ajang perjudian dalam bentuk apa pun.
Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, menegaskan bahwa perjudian merupakan tindak pidana yang akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Selain melanggar hukum, aktivitas taruhan tersebut dinilai merugikan tatanan sosial.
"Perjudian ini berpotensi menimbulkan dampak sosial yang merugikan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Karena itu, kami mengingatkan masyarakat tidak menjadikan Piala Dunia sarana perjudian," ujar Marzuki di Banda Aceh, Rabu (3/6/2026).
Jenderal polisi bintang dua itu juga meminta warga untuk tidak menunjukkan fanatisme berlebihan terhadap tim favorit. Menurutnya, perbedaan dukungan adalah hal yang lumrah dalam dunia olahraga.
"Perbedaan dukungan harus disikapi secara dewasa serta menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. Jangan karena berbeda dukungan, kemudian saling mengejek, menghina, hingga memprovokasi yang dapat memicu konflik," ucapnya.
Selain masalah judi dan konflik antarpendukung, Kapolda mengimbau warga untuk tidak melakukan euforia berlebihan saat tim kesayangannya menang. Aktivitas seperti konvoi di jalan raya atau menyalakan petasan dilarang karena mengganggu ketertiban umum.
Sebaliknya, pendukung yang timnya kalah diminta untuk berlapang dada dan tidak melampiaskan kekecewaan dengan tindakan anarkis yang merusak fasilitas publik maupun tempat usaha.
"Kami mengingatkan jangan ada yang merusak fasilitas tempat menonton bersama, warung kopi, kafe, dan lainnya hanya karena kecewa tim yang didukungnya kalah. Tindakan tersebut tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga berimplikasi hukum," kata Marzuki menegaskan.
Ia menambahkan, Piala Dunia seharusnya menjadi sarana hiburan yang mempererat silaturahmi, bukan justru memicu perpecahan. Mengingat sepak bola adalah olahraga yang sangat digemari di Serambi Mekah, kepolisian berharap momentum ini berjalan aman.
Guna mengantisipasi gangguan keamanan, Polda Aceh bersama jajaran Polres akan mengintensifkan langkah preventif, edukatif, dan pengawasan ketat selama turnamen berlangsung.
Baca Juga
"Kami mengajak masyarakat tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal Aceh. Tunjukkan bahwa masyarakat Aceh menjunjung tinggi sportivitas dan persaudaraan," pungkasnya.
Sebagai informasi, Piala Dunia 2026 akan berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Di Aceh, antusiasme warga biasanya terlihat dari tradisi nonton bersama (nobar) yang memadati warung kopi dan kafe di berbagai sudut kota. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Ketua Komisi VII DPR: Nobar Piala Dunia 2026 Dorong Pertumbuhan Ekonomi UMKM
-
DPR Wanti-wanti TVRI Jaga Kualitas Siaran Piala Dunia 2026
-
Piala Dunia 2026 di TVRI: Momentum Gerakkan Ekonomi Rakyat hingga Pelosok
-
John Herdman Dorong Rizky Ridho Segera 'Naik Level' ke Luar Negeri
-
Jembatan Darurat Kampung Owaq Aceh Tengah Dibangun, Akses Menuju Jamat Kembali Pulih
Terpopuler
-
Atasi Penumpukan Kontainer Tanjung Priok, Menkeu Purbaya Desak Regulasi Denda Importir
-
Mensesneg Respons Usulan Menteri HAM soal Jabatan Sipil dalam Revisi UU Polri
-
Menkeu Purbaya Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tak Bebani Fiskal Nasional
-
Melalui Lagu 'Aku Bisa', Rucky Markiano Bangkit dari Luka dan Keterpurukan
-
Kunjungan Wisman April 2026 Naik, Devisa RI Tembus Rp68 Triliun
Terkini
-
Atasi Penumpukan Kontainer Tanjung Priok, Menkeu Purbaya Desak Regulasi Denda Importir
-
Mensesneg Respons Usulan Menteri HAM soal Jabatan Sipil dalam Revisi UU Polri
-
Menkeu Purbaya Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tak Bebani Fiskal Nasional
-
Kunjungan Wisman April 2026 Naik, Devisa RI Tembus Rp68 Triliun
-
John Herdman Bangga Mathew Baker Jadi Debutan Termuda Timnas Indonesia