Matamata.com - Menikah dengan Datuk Sri Khalid 24 Agustus 2006 silam, Siti Nurhaliza langsung menyandang status ibu. Pasalnya, kala menikah sang suami berstatus duda lima anak.
Siti Nurhaliza menjadi ibu tiri dari empat putra dan putri dari Datuk Sri Khalid dari pernikahan sebelumnya. Meski menjadi seorang ibu tiri, anak-anak tirinya pun terlihat menghormati Siti Nurhaliza juga.
Mereka juga terlihat memiliki kedekatan satu sama lain. Dari ke-lima anak tirinya, putra bungsu tiri terakhir yang bernama Aazief Khalid mencuri perhatian.
Sayangnya netizen dibuat patah hari karena Aazief Khalid sudah memiliki kekasih yang bernama Tyra. Bahkan Aazief Khalid dan Tyra sudah berpacaran selama tiga tahun.
Lewat akun Instagram, Aazief Khalid dan Tyra pun tak sungkan untuk memamerkan kemesraannya. Pengen lihat gimana kemesraan mereka? Simak foto-fotonya berikut ini:
Berita Terkait
-
Siti Nurhaliza Desak Israel Bebaskan Relawan Global Sumud Flotilla
-
Mewahnya Rumah Siti Nurhaliza, Raffi Ahmad Kalah!
-
Mirip Bak Anak Kembar, Wajah Nissa Sabyan dan Siti Nurhaliza saat Foto Berjejer Jadi Omongan
-
Lirik Lagu Di Ujung Hari - Ungu Feat Siti Nurhaliza, Single Terbaru
-
Girang Lihat Lesti Kejora Nyanyi Bareng Siti Nurhaliza, Netizen: Mending B Gak Usah Nimbrung
Terpopuler
-
Wamenhaj Coreat Enam Calon Petugas Haji karena Tak Jujur Soal Riwayat Penyakit
-
Prabowo Koreksi Desain IKN: Tambah Embung dan Perkuat Antisipasi Karhutla
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
-
Denmark Peringatkan AS: Upaya Rebut Greenland Bisa Jadi Lonceng Kematian NATO
-
Menteri PKP Targetkan Pembangunan Ratusan Rusun Subsidi Sepanjang 2026
Terkini
-
8 Tips Liburan Hemat ke Bandung yang Patut Dicoba
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Happy Catchy Studio dan Keluarga Resmi Luncurkan Didi Kempot AI, Inovasi Digital Pelestarian Warisan Budaya
-
Pameran 'SUARA Indonesia!' Hadir di Yogyakarta, Refleksi 20 Tahun Konvensi UNESCO tentang Keberagaman Budaya