Matamata.com - Belakangan ini, khalayak ramai tengah dihebohkan dengan berdirinya kerajaan palsu bernama Keraton Agung Sejagat dari Purworejo, Jawa Tengah.
Dianggap meresahkan, pemimpin kerajaan palsu itu pun akhirnya ditangkap, salah satunya wanita bernama Fanni Aminadia yang kabarnya adalah ratu kerajaan tersebut.
Belum lama kabar penangkapannya viral, netizen justru menaruh perhatian pada potret cantik bernama Ratu Kachita.
Gara-gara fotonya bersama Fanni Aminadia dilaman Instagram, gadis yang jago nge-dance ini viral diisukan sebagai putri Ratu Keraton Agung Sejagat itu.
Namun, dalam sebuah live Instagram, Ratu Kachita mengaku hanya dekat bak seorang ibu dan anak. Biar nggak penasaran, yuk simak potret-potretnya!
1. Kelahiran 19 Febuari 1999
Tampil kasual, penampilan gadis manis 20 tahun ini kece abis deh.
2. Bersama Fanni Aminadia
Mengaku bukan ibu kandung, begini quality time seru Fanni Aminadia dan Ratu Kachita yang seru abis.
3. Pandai bergaya
Kenakan jaket warna kuning sambil gerai rambut, Ratu Kachita cute overload ya!
4. Berbakat abis!
Nah, ini dia performance Ratu Kachita saat menggung. Keren banget sih!
5. Jadi Selebgram
Berparas cantik jelita, Instagram Ratu Kachita telah diikuti 24,6 ribu followers lho.
Terpopuler
-
Piala Asia 2026: Timnas Futsal Indonesia Gelar Dua Uji Coba Tertutup Lawan Tajikistan dan Jepang
-
Istana: RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing Masih Sebatas Wacana
-
Wamenhaj Coreat Enam Calon Petugas Haji karena Tak Jujur Soal Riwayat Penyakit
-
Prabowo Koreksi Desain IKN: Tambah Embung dan Perkuat Antisipasi Karhutla
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
Terkini
-
8 Tips Liburan Hemat ke Bandung yang Patut Dicoba
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Happy Catchy Studio dan Keluarga Resmi Luncurkan Didi Kempot AI, Inovasi Digital Pelestarian Warisan Budaya
-
Pameran 'SUARA Indonesia!' Hadir di Yogyakarta, Refleksi 20 Tahun Konvensi UNESCO tentang Keberagaman Budaya