Matamata.com - Sinetron Ikatan Cinta tak hanya melejitkan nama dua pemain utamanya, Amanda Manopo dan Arya Saloka. Deretan pemeran pembantu juga ikut populer. Salah satunya yakni sosok artis tampan Diego Afisyah yang memerankan karakter Gery.
Ia ikut disorot gara-gara ketampanannya. Tapi tak banyak orang tahu jika Diego sebenarnya sudah menikah.
Saat akun TikTok anayadiandra mengunggah sosok istri Diego, para netizen yang juga penonton setia Ikatan Cinta langsung kaget. Banyak yang tak menyangka Diego sudah punya istri.
"Istri Diego Afisyah (pemeran Gery di Sinetron Ikatan Cinta)," bunyi tulisan yang diunggah anayadiandra.
Istri Diego, Polina langsung jadi sorotan netizen. Banyak yang tak menyangka aktor 26 tahun itu punya istri yang sangat cantik.
"Eh ternyata dah punya istri, tak kira masih anak remaja, ternyata udah om2. Om gery," tulis netizen. "Cantik ya istrinya. Ga nyangka dah nikah," sahut lainnya.
"Aku gak nyangka banget kalo ternyata pemeran gerry ikatan cinta udah punya istri," pungkas netizen. "Istrinya cantik bgt gak siih," timpal lainnya.
Diego Afisyah diketahui menikahi Polina yang merupakan model internasional itu pada Maret 2020. Saat ini Diego dan Polina sedang menanti kelahiran anak pertama mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
-
Istana: RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing Masih Sebatas Wacana
-
Wamenhaj Coreat Enam Calon Petugas Haji karena Tak Jujur Soal Riwayat Penyakit
-
Prabowo Koreksi Desain IKN: Tambah Embung dan Perkuat Antisipasi Karhutla
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
-
Denmark Peringatkan AS: Upaya Rebut Greenland Bisa Jadi Lonceng Kematian NATO
Terkini
-
8 Tips Liburan Hemat ke Bandung yang Patut Dicoba
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Happy Catchy Studio dan Keluarga Resmi Luncurkan Didi Kempot AI, Inovasi Digital Pelestarian Warisan Budaya
-
Pameran 'SUARA Indonesia!' Hadir di Yogyakarta, Refleksi 20 Tahun Konvensi UNESCO tentang Keberagaman Budaya