Matamata.com - Di tengah derasnya arus informasi dan opini publik, “Chicago The Musical” hadir sebagai refleksi tentang bagaimana kebenaran, citra, dan persepsi saling bertabrakan dalam kehidupan modern.
Malam pembukaan di Graha Bhakti Bhakti, Taman Ismail Marzuki, langsung membawa penonton ke dalam kisah Roxie Hart dan Velma Kelly—dua karakter yang terjebak dalam pusaran ambisi, sensasi media, dan manipulasi citra. Dengan dialog yang tajam, koreografi khas Bob Fosse yang presisi, serta iringan musik jazz yang kuat, pertunjukan ini menghadirkan kisah yang terasa dekat dengan realitas modern. Lebih dari sekadar musikal, Chicago The Musical menjadi cermin tentang bagaimana kebenaran, popularitas, dan kekuasaan sering kali saling berkelindan dalam kehidupan publik.
Dipimpin oleh Sutradara dan Produser Aldafi Adnan, produksi ini berhasil mengadaptasi karya Broadway legendaris ke dalam konteks lokal tanpa kehilangan esensi aslinya. Dengan deretan performer berbakat seperti Putri Indam Kamila (Roxie Hart), Galabby (Velma Kelly), dan Gusty Pratama (Billy Flynn), pertunjukan ini menampilkan kualitas triple threat: akting, vokal, dan tari yang solid. Didukung oleh arahan musik Ivan Tangkulung serta koreografi oleh Hamada Abdool, Chicago The Musical tampil sebagai produksi yang matang secara artistik dan teknis.
Ketika Fiksi Terasa Seperti Berita Hari Ini
Yang membuat Chicago The Musical terasa begitu kontemporer bukan hanya estetikanya, melainkan cerminan yang ditawarkannya tentang cara masyarakat merespons skandal, kejahatan, dan ketenaran. Galabby, pemeran Velma Kelly dalam produksi ini, menangkap relevansi itu dengan tajam. "Di Indonesia, netizen itu cepat tanggap. Ada berita, langsung bersuara lewat media sosial. Orang yang awalnya tidak bersalah pun terpaksa klarifikasi, persis seperti yang terjadi di panggung Chicago The Musical," ujar Galabby.
Pandangan yang sama datang dari Aldafi Adnan, Sutradara sekaligus Produser produksi ini, "Meskipun musikal ini berlatar di Amerika tahun 1920-an, tema-tema yang diangkat terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan kita hari ini: kita juga hidup di tengah era di mana cerita dapat dibentuk oleh persepsi, popularitas, dan panggung media. Dalam konteks ini, Chicago The Musical menjadi sangat relevan, mengajak kita untuk tertawa, terhibur, namun sekaligus merenung tentang bagaimana masyarakat sering kali terpesona oleh glamor drama dan skandal.”
Itulah yang membuat pertunjukan ini lebih dari sekadar tontonan. Ia menyentuh sesuatu yang sudah familiar, sebuah dunia di mana sensasi menjadi komoditas, dan kebenaran menjadi pilihan.
Koreografi yang Bukan Hanya Mengiringi—Tapi Bercerita
Salah satu kekuatan terbesar Chicago The Musical adalah cara koreografinya tidak berdiri terpisah dari narasi, melainkan menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita itu sendiri. Hamada Abdool, koreografer produksi ini, menjelaskan bagaimana kompleksitas itu terbangun, terutama dalam scene yang menjadi ikon produksi. "Di 'Cell Block Tango', ada enam karakter yang masing-masing menceritakan kasus pembunuhan mereka sendiri—sementara cast lain terus bergerak dan bernyanyi di latar. Koreografinya tidak hanya mengiringi cerita. Koreografinya adalah ceritanya," ucap Hamada Abdool.
Tantangan itu dirasakan langsung oleh para cast. “Yang paling menantang adalah bagaimana mencerminkan akting, vokal, dan tari Chicago The Musical dari Amerika ke Indonesia bisa menyentuh audiens dan terasa relevan di kehidupan Indonesia sehari-hari,“ ujar Putri, pemeran Roxie Hart.
Bagi penonton yang terbiasa menonton pertunjukan di mana tarian adalah jeda dari narasi, Chicago The Musical akan menjadi pengalaman yang berbeda. Sebuah kesadaran bahwa setiap gerakan menyimpan makna, setiap formasi adalah argumen, setiap langkah adalah emosi yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata.
Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah percakapan tentang ambisi dan manipulasi, tentang citra yang mengalahkan kebenaran, tentang bagaimana seseorang bisa tampak bersalah atau tak bersalah hanya bergantung pada siapa yang menceritakan kisahnya. Sebuah percakapan yang, mungkin, sudah lama kita butuhkan.
Chicago The Musical akan dipentaskan 8 - 12 April 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.
Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan produksi musikal kelas dunia ini secara langsung dan merasakan pengalaman panggung yang menggugah sekaligus menghibur. Tiket tersedia melalui: http://goers.co/chicagothemusical2026. Akses informasi terbaru melalui Instagram @by.adpro.
Berita Terkait
-
'Chicago The Musical' Tayang Perdana di Jakarta, Tunjukkan Standar Produksi Musikal Internasional
-
Chicco Jerikho hingga Anggy Umbara Gelar Aksi Musikal, Tunjukkan People Power
-
Wamen Ekraf Dorong Talenta Musikal Indonesia Tembus Panggung Dunia Lewat FMI 2025
-
Siap di Pentaskan Spektakuler di TIM, Begini Konsep Drama Musikal 'Pengin Hijrah'
-
Nicholas Saputra Mendadak jadi Penyanyi di Film 'Musikal Siapa Dia'
Terpopuler
-
'Chicago The Musical' Resmi di Jakarta: Kisah Lama yang Terasa Dekat dengan Kehidupan dan Realita Hari Ini
-
Kemenhaj: Arab Saudi Tak Terbitkan Visa Furoda Tahun Ini, Waspada Tawaran Haji Ilegal
-
Menko Muhaimin: Stok Pangan Nasional di Era Presiden Prabowo Terbesar dalam Sejarah
-
Menkeu Purbaya Percepat Rekrutmen Bea Cukai Lulusan SMA, Targetkan Buka April Ini
-
Prabowo Bakal Bangun Pusat Pengolahan Sawit dan Minyak Jelantah Menjadi Avtur
Terkini
-
'Chicago The Musical' Tayang Perdana di Jakarta, Tunjukkan Standar Produksi Musikal Internasional
-
Anak Indonesia Sampai Mars, Ini 3 Alasan Kenapa Harus Bawa Anak-anak Nonton 'Pelangi di Mars' di Bioskop!
-
Kualitas Film Indonesia Sudah Sampai Sini! Film 'Pelangi di Mars' Tawarkan Kualitas Animasi Kelas Dunia
-
Sejarah Baru! Film Sci-Fi Pelangi di Mars Resmi Tayang Serentak, Jadi Tonggak Inovasi Sinema untuk Anak Indonesia
-
Hari Pertama Tayang, 'Titip Bunda di Surga-Mu' Bikin Bioskop Banjir Air Mata hingga Dipuji Anies Baswedan