Matamata.com - Chicago The Musical resmi memulai rangkaian pertunjukannya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, menandai pencapaian penting dalam perkembangan industri teater musikal Indonesia. Produksi berlisensi resmi ini menghadirkan standar artistik internasional melalui kolaborasi antara ADPRO dan Jakarta Art House, sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai salah satu pusat pertunjukan seni di kawasan Asia Tenggara.
Dipimpin oleh Sutradara dan Produser Aldafi Adnan, produksi ini berhasil mengadaptasi karya Broadway legendaris ke dalam konteks lokal tanpa kehilangan esensi aslinya. Dengan deretan performer berbakat seperti Putri Indam Kamila (Roxie Hart), Galabby (Velma Kelly), dan Gusty Pratama (Billy Flynn), pertunjukan ini menampilkan kualitas triple threat: akting, vokal, dan tari yang solid. Didukung oleh arahan musik Ivan Tangkulung serta koreografi oleh Hamada Abdool, Chicago The Musical tampil sebagai produksi yang matang secara artistik dan teknis.
Aldafi Adnan, Sutradara sekaligus Produser, menjelaskan visi artistik yang menjadi landasan produksi ini. "Dalam produksi ini, kami coba hadirkan Chicago The Musical bukan hanya sebagai musikal klasik yang penuh energi, humor, dan sensualitas, tapi juga sebagai refleksi sosial yang terasa tajam, teatrikal, dan penuh permainan panggung. Kami ingin menyoroti absurditas dari dunia yang menjadikan sensasi sebagai komoditas."
Visi tersebut terwujud dalam setiap elemen produksi—dari pilihan koreografi hingga pendekatan perform yang dituntut dari seluruh cast. Hasilnya adalah pertunjukan yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga bermakna secara konseptual.
Standar Triple Threat yang Dituntut dari Setiap Performer
Chicago The Musical dikenal sebagai salah satu musikal yang paling menuntut secara teknis, karena beban yang ditanggung oleh setiap performer di atas panggung. Hamada Abdool mempertegas hal ini, "Chicago adalah musikal yang dance-heavy tapi para cast juga sambil nyanyi live. Sepanjang pertunjukan dipenuhi dengan koreografi berat. Tidak ada jeda yang nyaman untuk performer. Set design juga grande, benar-benar seperti versi broadway."
Tantangan itu dirasakan langsung oleh para cast. “Yang paling menantang adalah bagaimana mencerminkan akting, vokal, dan tari Chicago The Musical dari Amerika ke Indonesia bisa menyentuh audiens dan terasa relevan di kehidupan Indonesia sehari-hari,“ujar Putri, pemeran Roxie Hart.
Galabby, pemeran Velma Kelly, harus memastikan setiap vokal tetap bersih dan bertenaga di tengah koreografi penuh, sekaligus menyampaikan nuansa emosional karakter dalam bahasa Indonesia yang terasa alami dan mengena bagi penonton lokal. "Gimana biar Chicago The Musical versi bahasa Indonesia ini lebih kena ke audiens, itu tantangannya. Gimana saya membawanya," kata Galabby.
Kompleksitas Teknis sebagai Cermin Kualitas
Bagi mereka yang ingin memahami seberapa tinggi bar artistik yang dipasang dalam produksi ini, cukup mencermati scene-scene yang disebut Hamada Abdool sebagai paling menantang secara teknis. "'Cell Block Tango' dan 'We Both Reached for the Gun'—koreografinya bercerita. Rumit, kompleks, ada banyak variabel yang terjadi bersamaan: dialog, gerakan, nyanyian dari berbagai karakter. Semua harus presisi. Semua harus bermakna,” ucap Hamada Abdool.
Dalam 'Cell Block Tango', enam karakter masing-masing membawakan kisah pembunuhan mereka sendiri—sementara cast lain terus bergerak dalam formasi koreografi di latar. Tidak ada elemen yang berdiri sendiri; semuanya terhubung, semuanya berkontribusi pada satu narasi yang utuh. Inilah yang dimaksud dengan produksi berstandar internasional: bukan kemewahan set, melainkan kedalaman pengerjaan.
Lebih dari sekadar satu pertunjukan yang berlangsung selama lima hari, kehadiran Chicago The Musical di Jakarta menjadi preseden penting. Ia membuktikan bahwa karya-karya Broadway kelas dunia dapat dipentaskan secara penuh di Indonesia — dengan lisensi resmi, dengan talenta lokal, untuk penonton lokal, tanpa kompromi pada standar artistiknya. Pencapaian ini membuka jalan bagi lebih banyak produksi serupa di masa mendatang, dan memperkuat kepercayaan diri industri teater musikal nasional untuk bermain di level yang sama dengan panggung-panggung terbaik dunia.
Chicago The Musical akan dipentaskan 8 - 12 April 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan produksi musikal kelas dunia ini secara langsung dan merasakan pengalaman panggung yang menggugah sekaligus menghibur. Tiket tersedia melalui: http://goers.co/chicagothemusical2026. Akses informasi terbaru melalui Instagram @by.adpro.
Berita Terkait
-
Chicco Jerikho hingga Anggy Umbara Gelar Aksi Musikal, Tunjukkan People Power
-
Wamen Ekraf Dorong Talenta Musikal Indonesia Tembus Panggung Dunia Lewat FMI 2025
-
Siap di Pentaskan Spektakuler di TIM, Begini Konsep Drama Musikal 'Pengin Hijrah'
-
Nicholas Saputra Mendadak jadi Penyanyi di Film 'Musikal Siapa Dia'
-
Aktor Tanta Ginting bersama Gerakan Belarasa LDD KAJ, Gelar Drama Musikal
Terpopuler
-
'Chicago The Musical' Tayang Perdana di Jakarta, Tunjukkan Standar Produksi Musikal Internasional
-
Prabowo Instruksikan Rasio Utang Dijaga 40 Persen, Ekonomi Kuartal I Target 5,5 Persen
-
Tak Ingin Demokrasi Rusak, Relawan Prabowo: Kritik Boleh, Tapi Jangan Delegitimasi Lewat Jalanan!
-
BGN Jamin Anggaran Makan Bergizi Gratis Transparan, Diawasi Ketat Kemenkeu dan Bappenas
-
RI-India Jajaki Kerja Sama Pendidikan Bisnis, Program MBA Internasional Segera Masuk?
Terkini
-
Anak Indonesia Sampai Mars, Ini 3 Alasan Kenapa Harus Bawa Anak-anak Nonton 'Pelangi di Mars' di Bioskop!
-
Kualitas Film Indonesia Sudah Sampai Sini! Film 'Pelangi di Mars' Tawarkan Kualitas Animasi Kelas Dunia
-
Sejarah Baru! Film Sci-Fi Pelangi di Mars Resmi Tayang Serentak, Jadi Tonggak Inovasi Sinema untuk Anak Indonesia
-
Hari Pertama Tayang, 'Titip Bunda di Surga-Mu' Bikin Bioskop Banjir Air Mata hingga Dipuji Anies Baswedan
-
Meriam Bellina dan Ikang Fawzi Perankan Orang Tua yang Hadapi Ujian Terberat di Film 'Titip Bunda di Surga-Mu'