Matamata.com - UNICEF mengumumkan bahwa jumlah kematian anak di Tepi Barat dalam perang Israel-Palestina selama dua minggu terakhir jauh melampaui statistik sepanjang tahun 2022.
Adele Khodr, Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, menyatakan bahwa tahun ini merupakan tahun paling mematikan bagi anak-anak di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, karena eskalasi kekerasan konflik mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah wilayah tersebut.
"Tercatat dalam dua minggu terakhir, 83 anak tewas, melebihi dua kali lipat angka kematian anak tahun sebelumnya. Selain itu, lebih dari 576 anak dilaporkan terluka, dan sejumlah lainnya ditahan," ujar Khodr dikutip, Jumat (29/12/2023).
Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur yang sebagian diduduki oleh Israel dan sebagian lagi dikuasai oleh Otoritas Palestina, juga menderita akibat pembatasan pergerakan dan akses masyarakat.
Khodr menyoroti bahwa meskipun perhatian dunia tertuju pada situasi mengerikan di Jalur Gaza, anak-anak di Tepi Barat mengalami penderitaan sendiri.
Hidup dalam ketakutan dan kesedihan yang hampir terus-menerus telah menjadi kenyataan sehari-hari bagi anak-anak yang terkena dampak konflik.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa penderitaan anak-anak di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, tidak boleh diabaikan dalam konteks konflik saat ini, karena hal itu telah menjadi bagian integral dari realitas yang sulit di wilayah tersebut.
Seperti diketahui, perang Israel-Palestina kembali meletus pada 7 Oktober 2023 lalu. Israel mengklaim militer Hamas Palestina bertanggungjawab atas serangan yang menewaskan warga sipil Israel.
Kendati begitu, sejumlah video amatir memperlihatkan ada dugaan yang sengaja dilakukan Israel untuk mengadu domba. Pasalnya dalam video tersebut penyerang diketahui merupakan militer Israel.
Meski masih menjadi kabar burung, perang tersebut belum berhenti berkecamuk. Amerika Serikat juga mengingatkan para dua kelompok lebih menahan diri dan mematuhi aturan perang.
Mengingat korban anak-anak dan perempuan masih terus berjatuhan. Israel yang notabene melakukan serangan brutal ke pengungsian warga sipil menyebut bahwa tempat tersebut merupakan persembungian Hamas.
Berita Terkait
-
Ketegangan Memuncak! Utusan Trump ke Israel Saat Armada Besar AS Bergerak ke Iran
-
MUI Desak Indonesia Mundur dari Board of Peace, Istana: Kami Akan Berdialog
-
RI Protes Keras Serangan Israel di Gaza, Tempuh Jalur Diplomasi Lewat Board of Peace
-
Di Sidang PBB, Rusia Tegaskan Israel Tak Lagi Punya Alasan Blokade Pintu Rafah
-
Uni Eropa Desak Israel Hentikan Proyek Permukiman E1, Sebut Sebagai Provokasi Serius
Terpopuler
-
Bulog Siapkan Gudang Logistik 2-3 Hektare di Kampung Haji Arab Saudi
-
Pramono Anung Rindukan Tradisi Silaturahmi Ramadan di Jakarta, Siapkan Insentif Belanja Murah
-
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Mobil dari India
-
Kemenkeu: Realisasi Utang Pemerintah Januari 2026 Capai Rp127,3 Triliun
-
BGN Tegaskan Kabar Pembagian Makan Bergizi Gratis Saat Sahur Adalah Hoaks
Terkini
-
Bulog Siapkan Gudang Logistik 2-3 Hektare di Kampung Haji Arab Saudi
-
Pramono Anung Rindukan Tradisi Silaturahmi Ramadan di Jakarta, Siapkan Insentif Belanja Murah
-
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Mobil dari India
-
Kemenkeu: Realisasi Utang Pemerintah Januari 2026 Capai Rp127,3 Triliun
-
BGN Tegaskan Kabar Pembagian Makan Bergizi Gratis Saat Sahur Adalah Hoaks