Matamata.com - Pemerintah China menyatakan dukungan penuh terhadap kedaulatan Iran pasca-serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Meski demikian, Beijing masih enggan merinci bentuk dukungan konkret lainnya di luar ranah diplomasi dan politik.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa serangan militer terhadap Iran merupakan pelanggaran hukum internasional. Beijing menyerukan penghentian segera tindakan militer guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
"Kami mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, integritas teritorial, dan martabat nasionalnya. China selalu menganjurkan penyelesaian masalah melalui cara politik dan diplomatik," ujar Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (6/3).
Pernyataan ini muncul menanggapi klaim Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut Rusia dan China terus memberikan dukungan kepada Teheran di tengah gempuran AS-Israel. Namun, saat didesak mengenai bantuan non-politik, Mao Ning tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Keamanan Selat Hormuz dan Evakuasi Warga China juga menyoroti pentingnya stabilitas di Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan energi global. Beijing mendesak semua pihak menahan diri demi menghindari gangguan ekonomi global yang lebih parah.
Di sisi lain, Mao Ning mengonfirmasi bahwa pemerintah China telah mengevakuasi hampir 300 warga negaranya dari zona konflik. Ratusan warga tersebut tiba di Guangzhou pada 4 Maret lalu melalui Dubai.
Maskapai seperti Air China dan China Southern Airlines juga dilaporkan mulai melanjutkan penerbangan terbatas ke wilayah Teluk untuk proses repatriasi.
Trump: Operasi Militer Tanpa Batas Waktu Sementara itu, situasi di Teheran kian genting. Operasi militer yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sedikitnya 926 warga sipil.
Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak memiliki batas waktu pasti mengenai durasi perang ini, meski sebelumnya ia memprediksi operasi akan memakan waktu empat hingga lima pekan.
Trump menegaskan tujuan utama serangan ini adalah melumpuhkan program nuklir Iran dan memastikan kepemimpinan Iran di masa depan berada di tangan sosok yang ia sebut "rasional".
Iran sendiri telah merespons dengan meluncurkan rudal dan pesawat tak berawak (drone) ke wilayah Israel serta sejumlah titik aset militer AS di negara-negara Teluk. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah Intensifkan Negosiasi dengan Iran
-
Redam Dampak Konflik Global, Presiden Prabowo Perkuat Solidaritas Bersama Ulama
-
Hadapi Krisis Timur Tengah, RI Mulai Alihkan Impor Minyak dari Amerika Serikat
-
Dampak Perang Iran-Israel: Kemenhaj Minta Relaksasi Tiket Garuda dan Hotel Saudi untuk Jemaah Umrah
-
Dubes Malaysia Sambut Tawaran Presiden Prabowo Mediasi Konflik AS-Israel dan Iran
Terpopuler
-
Krisis Medis Gaza Kian Akut, WHO: Stok Obat Habis dan 18 Ribu Pasien Gagal Dievakuasi
-
Konflik Timur Tengah Memanas, Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Tetap Aman
-
China Dukung Kedaulatan Iran, Desak AS dan Israel Hentikan Serangan Militer
-
Situs Megalitikum 1.000 Tahun di Lore Lindu Dirusak Penambang Ilegal
-
Menkeu Purbaya: Harga BBM Subsidi Bisa Naik Jika Tekanan Minyak Lampaui Kapasitas APBN
Terkini
-
Krisis Medis Gaza Kian Akut, WHO: Stok Obat Habis dan 18 Ribu Pasien Gagal Dievakuasi
-
Konflik Timur Tengah Memanas, Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Tetap Aman
-
Situs Megalitikum 1.000 Tahun di Lore Lindu Dirusak Penambang Ilegal
-
Menkeu Purbaya: Harga BBM Subsidi Bisa Naik Jika Tekanan Minyak Lampaui Kapasitas APBN
-
Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah Intensifkan Negosiasi dengan Iran