Matamata.com - Pemerintah Iran menegaskan bahwa tercapainya kesepakatan final dengan Amerika Serikat (AS) sepenuhnya bergantung pada kesediaan Washington untuk menghentikan tuntutan yang berlebihan. AS juga didesak untuk meninggalkan sikap kontradiktif yang dinilai menghambat proses diplomasi.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Iran, mengutip penegasan dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat (29/5).
"Menjelaskan situasi seputar proses diplomatik yang dimediasi oleh Pakistan, Araghchi menekankan bahwa tercapainya kesepakatan akhir bergantung pada AS untuk mengakhiri tuntutan berlebihan dan meninggalkan posisi yang kontradiktif," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran.
Sikap tegas Teheran ini disampaikan Araghchi usai melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya sempat menyatakan bahwa sejumlah isu utama terkait program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum menemui titik temu. Kendati demikian, Trump mengeklaim Washington dan Teheran sudah mencapai kesepakatan untuk beberapa isu lain yang skalanya lebih kecil.
Hubungan kedua negara kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menjatuhkan korban dari warga sipil.
Pascaserangan tersebut, Washington dan Teheran sebenarnya sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai pada 7 April. Namun, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa hasil yang jelas.
Situasi semakin rumit setelah militer AS mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran. Meskipun Trump kemudian memperpanjang masa penghentian permusuhan demi memberi waktu bagi Iran untuk menyusun proposal perdamaian, aksi blokade ekonomi terhadap Teheran hingga kini masih terus berlangsung. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Trump Tolak Rusia dan China Amankan Pasokan Uranium Iran
-
Trump Sebut Uranium Iran Akan Diserahkan ke AS atau Dimusnahkan Bersama
-
Presiden Iran Perintahkan Pemulihan Internet Total Pasca-Protes Nasional
-
Kemenlu RI: Pertemuan Xi Jinping-Donald Trump Bawa Suasana Positif di SOM APEC 2026
-
AS Sanksi Empat Aktivis Armada Bantuan Gaza, Tuduh Terkait Jaringan Hamas
Terpopuler
-
Saling Sandera Kesepakatan, Iran Tuntut AS Hentikan Sikap Plinplan dan Tuntutan Berlebihan
-
Pemerintah Siapkan Lahan 24 Ribu Hektare di Jawa untuk Sokong Megaproyek PLTS 100 GW
-
BGN: 29.400 Dapur Makan Bergizi Gratis Lolos Verifikasi Nasional
-
Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis Hasilkan 4 Kesepakatan Komersial Baru
-
DPR Minta Instruksi Presiden Soal Pelajaran Bahasa Prancis Diterapkan Bertahap
Terkini
-
Pemerintah Siapkan Lahan 24 Ribu Hektare di Jawa untuk Sokong Megaproyek PLTS 100 GW
-
BGN: 29.400 Dapur Makan Bergizi Gratis Lolos Verifikasi Nasional
-
Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis Hasilkan 4 Kesepakatan Komersial Baru
-
DPR Minta Instruksi Presiden Soal Pelajaran Bahasa Prancis Diterapkan Bertahap
-
Kementerian ATR Beberkan Alur Legal Jual Beli Tanah dan Cara Balik Nama Sertifikat