Matamata.com - Iran menegaskan tidak akan pernah bersedia bernegosiasi di bawah ancaman atau tekanan militer dari Amerika Serikat (AS). Teheran menyatakan tidak akan tunduk pada intimidasi apa pun yang datang dari Washington.
"Iran tidak pernah bernegosiasi di bawah ancaman dan tekanan, dan tidak akan pernah tunduk pada tekanan tersebut," ujar Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, dalam sesi Dewan Keamanan PBB terkait situasi Timur Tengah di New York, Rabu (10/6/2026).
Iravani menekankan, jika Washington benar-benar berkomitmen mencari solusi diplomatik, pemerintah AS harus menyudahi narasi ancaman. Menurutnya, dialog hanya bisa terjadi atas dasar saling menghormati dan kesetaraan kedaulatan.
Pernyataan keras Iran ini mencuat setelah laporan dari Axios pada hari yang sama menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah menggelar pertemuan khusus. Rapat tersebut membahas rencana operasi serangan udara baru terhadap Iran.
Trump bersumpah akan melanjutkan tindakan permusuhan menyusul mandeknya proses negosiasi kedua negara. Ia mengklaim Iran sengaja mengulur-ulur waktu dalam pembicaraan diplomatik.
"Mereka (Iran) sekarang harus membayar harganya," tegas Trump.
Ancaman serangan baru ini mencuat setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa pasukan AS telah melancarkan serangan ke wilayah Republik Islam tersebut. Washington berdalih aksi itu merupakan respons atas serangan Iran terhadap helikopter Apache milik AS.
Ketegangan kedua negara sempat memuncak pada 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang memicu kerusakan fasilitas dan korban jiwa dari warga sipil. Iran kemudian membalas dengan menggempur wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Meski sempat menyepakati gencatan senjata pada 7 April lalu, ketegangan kembali meningkat setelah rangkaian perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa menghasilkan terobosan. (Antara)
Berita Terkait
-
Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz, Trump: Semuanya Sudah Berakhir bagi Iran
-
Konflik Timur Tengah Memanas, Rupiah Melemah ke Rp18.107 per Dolar AS
-
Trump Klaim Israel dan Hizbullah Sepakat Hentikan Saling Serang
-
AS Sita Aset Kripto Iran Senilai Rp17,8 Triliun dan Bidik Properti di Eropa
-
Menhan AS Pete Hegseth Beri Peringatan Keras ke China soal Indo-Pasifik
Terpopuler
-
Hubungan AS Iran Memanas, Teheran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan Donald Trump
-
Klarifikasi Raffi Ahmad Soal Namanya Terseret Kasus Blueray Cargo: Cuma Foto Bareng
-
Mensesneg Targetkan Perbaikan Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Rampung Sebulan
-
DPR Sahkan RUU Polri, Menteri Hukum Sebut Regulasi Baru Dukung Adaptasi Teknologi
-
Harga Pertamax Naik: Ekonom Desak Bansos Tunai Digital demi Jaga Daya Beli
Terkini
-
Klarifikasi Raffi Ahmad Soal Namanya Terseret Kasus Blueray Cargo: Cuma Foto Bareng
-
Mensesneg Targetkan Perbaikan Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Rampung Sebulan
-
DPR Sahkan RUU Polri, Menteri Hukum Sebut Regulasi Baru Dukung Adaptasi Teknologi
-
Harga Pertamax Naik: Ekonom Desak Bansos Tunai Digital demi Jaga Daya Beli
-
Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz, Trump: Semuanya Sudah Berakhir bagi Iran