Matamata.com - Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan telah menyita aset mata uang kripto milik Iran senilai hingga 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp17,8 triliun. Selain itu, Washington kini tengah berkoordinasi dengan sekutu di Eropa untuk merebut aset-aset lain yang terkait dengan Teheran.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengonfirmasi tindakan tegas tersebut pada Jumat (29/5). Ia mengibaratkan operasi senyap ini seperti langsung mengambil dompet dari saku target.
"Saya yakin kami telah merampas aset kripto mereka senilai sekitar 1 miliar dolar AS," ujar Bessent.
Bessent bahkan berseloroh bahwa sejumlah pemilik aset tidak menyadari kalau kekayaan digital mereka telah dikuasai oleh otoritas AS.
"Sebagian dari mereka mungkin masih mengetik (di perangkatnya) saat ini, dan baru sadar kalau dompet mereka sudah diambil," katanya menambahkan.
Lebih lanjut, Bessent menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan AS terus membangun komunikasi intensif dengan negara-negara sekutu untuk melakukan penyitaan aset yang lebih luas, termasuk aset fisik.
"Kami bekerja sama dengan sekutu di seluruh Eropa untuk menyita vila, rumah, dan properti mewah," tutur Bessent.
Menurut klaim sepihak dari Washington, langkah agresif ini diambil sebagai upaya untuk memulihkan dana yang dianggap telah dicuri dari rakyat Iran. "Aset-aset tersebut berasal dari uang yang dicuri dari rakyat Iran," ucap Menkeu AS.
Tak hanya menyasar sektor digital dan properti, tekanan ekonomi terhadap Iran juga memukul sektor energi. Bessent menyebutkan bahwa fasilitas ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg saat ini sudah tidak beroperasi menyusul adanya blokade laut oleh militer AS.
Di sisi lain, Bessent menilai agresivitas politik Iran di Timur Tengah justru menjadi bumerang diplomasi bagi negara tersebut. Hubungan AS dengan negara-negara Teluk kini semakin solid dalam menindak Teheran lewat jalur finansial.
"Negara-negara Teluk kini menjadi mitra yang sangat baik. Karena itu, AS juga dapat membekukan rekening-rekening bank asal Iran di kawasan tersebut," pungkas Bessent. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Danantara: Perdamaian AS-Iran Berdampak Positif Bagi Ekonomi RI dan Stabilitas Fiskal
-
KTT Prancis: G7 Sepakat Tambah Bantuan Militer Ukraina dan Sambut Kesepakatan AS-Iran
-
China Dukung Kesepakatan Damai AS-Iran dan Pembukaan Selat Hormuz
-
AS Belum Undang Putin ke KTT G20 di Miami, Kemlu Rusia Buka Suara
-
Hubungan AS Iran Memanas, Teheran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan Donald Trump
Terpopuler
-
Komunitas Rider Kalisari R2L, Gelar Touring Kebersamaan ke Bogor
-
Ingin Karyanya Lebih Bernyawa, Anggia Novita Optimistis Produseri Soundtrack Film 'Juminten Edan'
-
Pupuk Indonesia Sediakan 6 Mobil Uji Tanah Gratis di Sumatera demi Ketahanan Pangan
-
Sepakat Berkolaborasi! Hard Lights, BEAUZ, dan Solar State, Rilis Lagu 'Mad World'
-
Kuras Emosi! Auzan Noh dan Syakir Daulay Kompak Bintangi Film 'Dua Nafas'
Terkini
-
Pupuk Indonesia Sediakan 6 Mobil Uji Tanah Gratis di Sumatera demi Ketahanan Pangan
-
PDIP Tegaskan Posisi Politik Penyeimbang Pemerintahan Prabowo Subianto
-
Susunan Pemain Turki vs Paraguay Piala Dunia 2026: Arda Guler Starter
-
KPK Pastikan Tak Duplikasi Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis yang Ditangani Kejagung
-
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri Usai Ditangkap, Kuasa Hukum Buka Suara