Matamata.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pihaknya tengah mengkaji kemungkinan tambang PT Freeport Indonesia yang tidak terdampak longsor untuk kembali beroperasi setelah insiden longsor di kawasan Grasberg Block Cave (GBC), Tembagapura, Papua Tengah, pada September 2025.
“Ada bagian yang memang tidak ada kaitannya dengan musibah. Ini sedang di-exercise untuk bagaimana bisa produksi,” ujar Bahlil usai melantik anggota Komite BPH Migas di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (10/11).
Bahlil menjelaskan, evaluasi tersebut dilakukan karena terhentinya operasional tambang Freeport dapat berdampak pada pendapatan negara, karyawan, pendapatan daerah, serta keberlangsungan operasional smelter Gresik yang bergantung pada pasokan konsentrat dari tambang tersebut.
“Sekarang tim saya masih di sana, makanya belum berani ngomong secara menyeluruh karena tim kami belum kasih laporan,” ujarnya.
Ia menegaskan tidak ingin menetapkan batas waktu penyelesaian evaluasi karena proses tersebut harus dilakukan dengan hati-hati dan mengutamakan keselamatan.
“Kalau kami beri target waktu, kemudian kerjanya nggak benar, nanti bahaya karena ini nyawa,” kata Bahlil.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengonfirmasi bahwa Freeport telah mengajukan permohonan untuk mengoperasikan kembali area tambang yang tidak terdampak longsor.
“Sudah (mengajukan), tapi mitigasinya seperti apa, itu yang kami mau tahu,” kata Tri.
Sebelumnya, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menyampaikan bahwa smelter Freeport di Gresik, Jawa Timur, terhenti beroperasi karena tidak memperoleh pasokan konsentrat sejak longsor di tambang bawah tanah GBC pada 8 September 2025.
Sejak longsor lumpur bijih basah terjadi di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) Extraction 28–30 Panel, Tembagapura, Freeport menghentikan sementara operasional untuk memfokuskan sumber daya dalam upaya evakuasi tujuh pekerja yang terjebak. Seluruh korban ditemukan secara bertahap, hingga pada 6 Oktober 2025, proses pencarian dinyatakan selesai.
Baca Juga
“Mudah-mudahan kami bisa segera beroperasi walaupun tidak dalam kapasitas penuh, supaya bisa ada konsentrat yang kami produksi untuk dikirim ke smelter-smelter,” ujar Tony.
Freeport saat ini masih menghitung dampak penghentian operasional lebih dari satu bulan terhadap realisasi produksi perusahaan. Tony menambahkan, fokus utama Freeport saat ini adalah pemulihan tambang pasca-evakuasi. (Antara)
Berita Terkait
-
Kementerian ESDM Matangkan Skema Distribusi CNG 3 Kg, Tabung Pakai Sistem Pinjam
-
Mentan Pastikan Implementasi B50 Tidak Ganggu Pasokan Minyak Goreng Domestik
-
Wapres Gibran Tekankan Pentingnya Penguatan Toleransi dan Moderasi Beragama
-
Wamendagri Tegaskan Dana Otsus Papua 2026 Cair 100 Persen, Ini Faktanya
-
Presiden Prabowo dan Menteri Bahlil Dorong Interkoneksi Listrik Lintas Negara ASEAN
Terpopuler
-
Bahasa Prancis Wacana Masuk Kurikulum, Komisi X DPR Minta Pemerintah Kaji Matang
-
Menko Pangan Tegaskan Swasembada Pangan Menyangkut Hak Rakyat dan Kesejahteraan Petani
-
PLN Buka Suara Soal Tarif Listrik April-Juni 2026 dan Cara Cek Tagihan
-
Gerindra Puji Sikap Elegan Megawati yang Tetap Hormati Presiden Prabowo
-
Nadiem Makarim Terharu Ratusan Sopir Ojol Padati Sidang Pleidoi Kasus Chromebook
Terkini
-
Bahasa Prancis Wacana Masuk Kurikulum, Komisi X DPR Minta Pemerintah Kaji Matang
-
Menko Pangan Tegaskan Swasembada Pangan Menyangkut Hak Rakyat dan Kesejahteraan Petani
-
PLN Buka Suara Soal Tarif Listrik April-Juni 2026 dan Cara Cek Tagihan
-
Gerindra Puji Sikap Elegan Megawati yang Tetap Hormati Presiden Prabowo
-
Nadiem Makarim Terharu Ratusan Sopir Ojol Padati Sidang Pleidoi Kasus Chromebook