Matamata.com - Direktur Gas PT Pertamina (Persero) periode 2012-2014, Hari Karyuliarto, meminta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Nicke Widyawati dihadirkan sebagai saksi dalam sidang dugaan korupsi pengadaan liquefied natural gas (LNG).
Hari menilai kesaksian keduanya sangat krusial karena berkaitan dengan periode penjualan LNG saat pandemi COVID-19. Menurut Hari, Direksi Pertamina periode 2019-2024 yang memiliki kewenangan penuh atas transaksi jual-beli pada masa itu.
"Saya tidak ragu meminta Pak Ahok dan Bu Nicke hadir karena mereka juga harus bertanggung jawab. Mereka yang memilih pembeli LNG berikutnya saat pandemi," ujar Hari usai persidangan di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat, Kamis (29/1).
Ahok menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina periode 2019-2024, sementara Nicke Widyawati menduduki posisi Direktur Utama periode 2018-2024. Hari mengungkapkan kekecewaannya karena sejauh ini keduanya belum muncul di persidangan untuk memberikan klarifikasi.
Hari mengeklaim bahwa Pertamina sebenarnya meraup keuntungan dari penjualan tersebut. "Jelas-jelas Ahok dan Nicke menerima tantiem dari hasil penjualan LNG itu. Saya hanya ingin mereka mengklarifikasi kebenaran tersebut," tambahnya.
Senada dengan kliennya, penasihat hukum Wa Ode Nur Zainab berharap hukum ditegakkan secara adil tanpa adanya kriminalisasi. Ia menyinggung kehadiran Ahok di persidangan kasus lain sebagai teladan yang patut diikuti.
"Kami harap Bapak Ahok secara gentleman mengakui bahwa dinamika yang terjadi, meskipun kami tegaskan itu bukan korupsi melainkan dampak pandemi, terjadi di periode mereka," tutur Wa Ode.
Duduk Perkara Kasus Hari Karyuliarto bersama Yenni Andayani (mantan Vice President Strategic Planning Pertamina) didakwa merugikan keuangan negara sebesar 113,84 juta dolar AS atau setara Rp1,77 triliun dalam pengadaan LNG dari Corpus Christi Liquefaction (CCL) LLC.
Jaksa mendakwa Hari tidak menyusun pedoman pengadaan dari sumber internasional. Sementara Yenni diduga mengusulkan penandatanganan perjanjian jual-beli LNG tanpa didukung kajian ekonomi dan risiko yang memadai, serta belum adanya kepastian pembeli (offtaker).
Atas perbuatannya, para terdakwa dijerat Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. (Antara)
Berita Terkait
-
Vonis 15 Tahun dan Uang Pengganti Rp2,9 T, Anak Riza Chalid Ajukan Banding
-
Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah Intensifkan Negosiasi dengan Iran
-
Menko Airlangga: Konflik AS-Iran Ganggu Pasokan Minyak Dunia, RI Siapkan Langkah Mitigasi
-
Stok Aman! Pertamina Guyur Jatim 1,09 Juta Tabung LPG Tambahan Jelang Ramadan
-
Ahok Pastikan Hadir Jadi Saksi Sidang Kasus Korupsi Minyak Mentah Rp285 Triliun
Terpopuler
-
Wakapolri Imbau Pemudik Hubungi Hotline 110 Jika Alami Gangguan di Jalan
-
Menko AHY: Tata Ruang Adalah Panglima dalam Pembangunan Infrastruktur
-
Saudi Kedepankan Diplomasi Redakan Eskalasi di Timur Tengah, Jamin Keamanan Haji
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Stok Beras Melimpah, Mentan Amran Lapor ke Presiden Prabowo Capaian PDB Pertanian Tertinggi dalam 25 Tahun
Terkini
-
Wakapolri Imbau Pemudik Hubungi Hotline 110 Jika Alami Gangguan di Jalan
-
Menko AHY: Tata Ruang Adalah Panglima dalam Pembangunan Infrastruktur
-
Saudi Kedepankan Diplomasi Redakan Eskalasi di Timur Tengah, Jamin Keamanan Haji
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Stok Beras Melimpah, Mentan Amran Lapor ke Presiden Prabowo Capaian PDB Pertanian Tertinggi dalam 25 Tahun