Matamata.com - Pemerintah Thailand resmi memulai langkah diplomasi untuk mengamankan pasokan minyak dari Rusia. Langkah ini diambil sebagai strategi mitigasi risiko di tengah ketidakpastian pasokan energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Wakil Perdana Menteri Thailand, Phipat Ratchakitprakarn, mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow tengah melakukan konsultasi awal mengenai pengadaan minyak tersebut di sela-sela kunjungan kerjanya ke Eropa.
"Ada kabar baik hari ini. Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow telah berangkat ke Eropa untuk konferensi internasional dan akan memulai konsultasi mengenai pasokan minyak di sana," ujar Ratchakitprakarn dalam keterangan pers di Gedung Pemerintah, Rabu (18/3/2026).
Menurut Ratchakitprakarn, kerja sama energi dengan Rusia dipandang sebagai solusi jangka panjang bagi Thailand. "Jika kita berhasil menerima pasokan minyak dari Rusia, kita tidak akan lagi menghadapi masalah (pasokan energi)," tegasnya.
Saat ini, Menlu Phuangketkeow berada di Wina, Austria, untuk menghadiri KTT pemberantasan penipuan yang diselenggarakan oleh UNODC dan Interpol. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh delegasi Rusia, yang akan dimanfaatkan Thailand sebagai momentum pembahasan teknis pasokan minyak.
Rencana ini juga akan dibahas lebih lanjut dalam rapat kabinet bersama Menteri Energi pada Selasa mendatang. Pemerintah Thailand menargetkan kesepakatan ini dapat segera terealisasi untuk menambal potensi kekurangan stok.
Sejauh ini, sekitar 50 persen kebutuhan impor minyak Thailand bergantung pada kawasan Teluk Persia. Namun, konflik yang memanas di Timur Tengah membuat alur distribusi tersebut berada dalam risiko tinggi.
Momentum ini diambil Thailand menyusul kebijakan Amerika Serikat yang melonggarkan sebagian pembatasan terhadap minyak Rusia per 12 Maret lalu. Kebijakan AS tersebut mengizinkan penjualan minyak mentah dan produk minyak bumi Rusia yang telah dimuat ke kapal.
Kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), Kirill Dmitriev, menyebutkan bahwa pelonggaran sanksi AS ini berdampak signifikan pada sekitar 100 juta barel minyak Rusia yang saat ini sedang dalam status transit. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Mendiktisaintek Dorong Hilirisasi Riset Kampus untuk Ketahanan Pangan dan Energi
-
Harga Minyak Brent Naik, Menteri ESDM Pastikan Stok BBM Aman dan Negosiasi Impor Menguntungkan
-
Hadapi Krisis Timur Tengah, RI Mulai Alihkan Impor Minyak dari Amerika Serikat
-
Dampingi Presiden Prabowo di AS, Menteri ESDM Fokus pada Ketahanan Energi dan Hilirisasi
Terpopuler
-
Thailand Jajaki Pembelian Minyak Rusia guna Amankan Pasokan Domestik
-
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Cek Kesiapan Prajurit Yonif TP 845 Ksatria Satam di Babel
-
Sambut Lebaran Idul Fitri 1447 H, Musisi Rucky Markiano Luncurkan Lagu 'Dosa'
-
Sukses jadi Intel, Iptu Sukandi Rekam Lagu 'I Love You Bhayangkari' untuk Sang Istri
-
5 Rekomendasi Mesin Cuci Terbaik 2026 yang Hemat Listrik, Baju Kinclong dan Bebas Kuman
Terkini
-
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Cek Kesiapan Prajurit Yonif TP 845 Ksatria Satam di Babel
-
MK Tolak Permohonan Uji Materi KUHP dan UU ITE yang Diajukan Roy Suryo dkk
-
Pertamina Imbau Masyarakat Tidak Panic Buying, Pastikan Stok BBM Nasional Aman
-
KPK: Sistem Pengadaan Barang dan Jasa Pemkab Rejang Lebong Sangat Rentan Korupsi
-
DPR: Wacana KPU Jadi Lembaga Negara Keempat Perlu Kajian Komprehensif