Matamata.com - Pemerintah resmi menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) Tahun 2026-2029. Regulasi ini menjadi payung hukum kuat untuk memperkuat stok pangan nasional sekaligus menjamin kesejahteraan petani.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Inpres ini adalah bukti nyata keberpihakan Presiden Prabowo Subianto kepada produsen pangan lokal.
"Dalam Inpres 3/2026 ini memuat direktif Presiden untuk melaksanakan pengadaan jagung dalam negeri sepanjang tahun 2026," ujar Amran dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Pemerintah mematok target pengadaan jagung sebesar 1 juta ton pada tahun ini. Adapun Harga Pembelian Pemerintah (HPP) ditetapkan sebesar Rp5.500 per kilogram (kg) untuk jagung usia panen dengan kadar air 18 hingga 20 persen.
Penugasan pengadaan ini diberikan kepada Perum Bulog guna memperkuat stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP). Amran menambahkan, langkah ini merupakan upaya mempertahankan status swasembada jagung pakan yang telah dicapai Indonesia.
"Indonesia sudah swasembada jagung untuk pakan. Impor jagung pakan sudah nol persen. Capaian ini akan terus kita lanjutkan sesuai arahan Bapak Presiden," tegasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipilan kering (kadar air 14%) pada 2025 mencapai 16,16 juta ton. Dengan konsumsi nasional sebesar 15,23 juta ton, terdapat surplus sebesar 0,93 juta ton yang harus dikelola dengan baik agar harga di tingkat petani tidak anjlok.
Selain penyerapan, Inpres ini mengatur penyaluran CJP melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk membantu peternak unggas mandiri maupun pabrik pakan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengungkapkan pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp678 miliar untuk program SPHP jagung pakan tahun 2026. Total alokasi penyaluran mencapai 242 ribu ton.
"Kami harapkan bulan ini sudah berjalan sehingga dapat menstabilkan harga produk peternak seperti telur dan daging ayam ras," kata Ketut.
Hingga 2 April 2026, stok CJP di gudang Bulog tercatat telah mencapai 168 ribu ton. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan realisasi tahun 2025 yang hanya mencapai 101 ribu ton sepanjang tahun.
Kendati demikian, Ketut menekankan bahwa penyaluran SPHP akan tetap memperhatikan kondisi lapangan. Penyaluran akan difokuskan pada wilayah yang bukan sentra produksi atau daerah yang tidak sedang mengalami panen raya, guna menjaga keseimbangan harga di pasar. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Bapanas Kawal Mutu Beras Ekspor ke Malaysia, Bulog Sebut Harga di Atas HET
-
Mentan Amran Cabut Izin Distributor Pupuk Subsidi Usai Terima Laporan Mahasiswa BEM
-
Stok Beras Aman, Bulog Serap 2,4 Juta Ton Gabah Petani per Mei 2026
-
Bapanas Antisipasi Deflasi Pangan 2026: Stok Cabai dan Jagung SPHP Mulai Disalurkan
-
Ekspor CPO Indonesia 2026 Naik Pesat, Hilirisasi Jadi Kunci Dominasi Pasar Global
Terpopuler
-
Ketua Exco Partai Buruh Papua Tengah, Dukung Said Iqbal Atasi Kasus 8.300 PHK Karyawan PT Freeport Indonesia
-
Trump Ancam Kenakan Tarif Impor 100 Persen bagi Negara Pengumpul Pajak Digital
-
Menyesal! Davina Karamoy Tak Kuasa Tahan Tangis di Film 'Andai Waktu Bisa Diulang Kembali'
-
Menteri Kebudayaan: Ruang Kreatif Komunitas Strategis bagi Keberlanjutan Budaya
-
Akademisi UPN Veteran Yogyakarta Sebut Paparan Presiden Prabowo Perkuat Pemahaman Aliran Bernegara
Terkini
-
Trump Ancam Kenakan Tarif Impor 100 Persen bagi Negara Pengumpul Pajak Digital
-
Menteri Kebudayaan: Ruang Kreatif Komunitas Strategis bagi Keberlanjutan Budaya
-
Akademisi UPN Veteran Yogyakarta Sebut Paparan Presiden Prabowo Perkuat Pemahaman Aliran Bernegara
-
KDM Alihkan Hadiah Sayembara Rp250 Juta untuk Masa Depan Korban Penyekapan
-
Fadli Zon: Lengger Banyumas Harus Dirawat dan Dikembangkan ke Tingkat Dunia