Matamata.com - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengungkapkan penyebab utama energi panas bumi (geothermal) belum dapat diaplikasikan secara efektif di Indonesia. Faktor harga yang belum kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil menjadi hambatan utama.
"Penyebab implementasi geothermal belum berhasil hingga saat ini adalah masalah harga listrik. Biaya dari fossil fuel batu bara itu sekitar 7-8 sen per kilowatt hours (kWh), sementara geothermal di Indonesia masih sekitar 18 sen per kWh," ujar Stella Christie di Jakarta, Senin (6/4).
Stella menjelaskan, mahalnya harga listrik panas bumi tersebut merupakan fenomena global yang membuat banyak negara belum mengimplementasikan energi terbarukan ini secara masif. Meski demikian, ia optimistis Indonesia bisa menjadi pemimpin di sektor ini mengingat besarnya potensi yang dimiliki.
Berdasarkan data, sekitar 40 persen cadangan energi panas bumi dunia berada di Indonesia. Namun, pemanfaatannya saat ini masih sangat minim.
"Di Indonesia, kita baru menggunakan 10 persen dari potensi geothermal. Kita harus sungguh-sungguh bekerja sama dengan berbagai instansi untuk meninjau kembali ekosistem panas bumi di tanah air," tegasnya.
Lebih lanjut, Stella menggarisbawahi bahwa panas bumi harus menjadi prioritas riset strategis nasional. Selain ramah lingkungan, energi ini dinilai lebih konsisten karena tidak bergantung pada cuaca, berbeda dengan energi surya atau angin.
Saat ini, Pemerintah RI memosisikan riset energi sebagai pilar utama dalam Program Riset Strategis Nasional. Langkah ini diambil untuk mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen sesuai kebijakan energi nasional.
Integrasi riset panas bumi ke skala nasional juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia terhadap Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) demi mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Menteri LH Dorong PSEL Palembang Mampu Olah 1.000 Ton Sampah per Hari
-
Wamendiktisaintek Stella Christie: ASN Harus Kuasai 'Deep Thinking' untuk Hadapi Tantangan Digital
-
Danantara Percepat Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik di Palembang
-
Pakar Nilai Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi April 2026 Sebagai Langkah Koreksi yang Wajar
-
Investasi Rp3 Triliun, Pemerintah Bangun Proyek PSEL di Makassar untuk Olah Sampah Aglomerasi
Terpopuler
-
Imbas Konflik Timur Tengah, Australia hingga Brasil Antre Minta Pupuk ke Indonesia
-
Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Desa Merah Putih, Targetkan Lompatan Besar di Agustus 2026
-
Polri Siapkan 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk Diresmikan Presiden Prabowo
-
Kemenhaj Siapkan 15 Juta Porsi Makanan Khas Nusantara untuk Jemaah Haji Indonesia
-
Prabowo Minta TNI-Polri Bersih-bersih Institusi: Jangan Ada yang Backing Judi dan Narkoba
Terkini
-
Imbas Konflik Timur Tengah, Australia hingga Brasil Antre Minta Pupuk ke Indonesia
-
Prabowo Resmikan 1.061 Koperasi Desa Merah Putih, Targetkan Lompatan Besar di Agustus 2026
-
Polri Siapkan 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk Diresmikan Presiden Prabowo
-
Kemenhaj Siapkan 15 Juta Porsi Makanan Khas Nusantara untuk Jemaah Haji Indonesia
-
Prabowo Minta TNI-Polri Bersih-bersih Institusi: Jangan Ada yang Backing Judi dan Narkoba