Matamata.com - Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme perlindungan pasukan perdamaian dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Hal ini menyusul eskalasi konflik yang kian mengancam keselamatan personel di lapangan.
"Kami mendorong PBB untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL agar sesuai dengan realitas ancaman yang berkembang di lapangan," ujar Sukamta dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (25/4).
Legislator asal daerah pemilihan Yogyakarta ini menekankan bahwa perlindungan personel yang menjalankan misi kemanusiaan adalah prioritas utama yang tidak boleh diabaikan oleh pihak mana pun yang sedang berkonflik. Ia juga menuntut adanya investigasi transparan atas insiden gugurnya Praka Rico Pramudia akibat serangan peluru kendali.
"Perlindungan terhadap personel PBB harus menjadi prioritas utama, termasuk dalam dinamika konflik yang melibatkan Israel dan aktor lainnya di kawasan," tegasnya.
Selain desakan kepada PBB, Sukamta meminta Pemerintah Indonesia meninjau ulang aspek keamanan dan pola penugasan prajurit TNI di wilayah konflik. Menurutnya, kesiapan teknis harus diperkuat tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor aktif perdamaian global.
"Perdamaian dunia tidak boleh dibayar dengan pengorbanan yang sia-sia. Setiap prajurit yang gugur harus menjadi pengingat bahwa sistem perlindungan harus kuat dan didukung komitmen komunitas internasional," tambahnya.
Sukamta turut menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Praka Rico Pramudia. Prajurit terbaik TNI tersebut gugur setelah menjalani perawatan medis akibat ledakan peluru kendali yang menghantam markas UNIFIL pada Rabu (29/3) lalu.
Sukamta menilai serangan langsung ke markas UNIFIL menunjukkan eskalasi situasi yang sangat signifikan. Hal ini menempatkan pasukan penjaga perdamaian pada risiko tinggi yang tidak bisa ditoleransi.
Gugurnya Praka Rico menambah daftar panjang duka Indonesia di Lebanon. Hingga saat ini, total empat prajurit TNI telah gugur dalam misi tersebut, yakni Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon, dan terakhir Praka Rico Pramudia.
"Semoga para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," pungkas Sukamta. (Antara)
Berita Terkait
-
Trump Klaim Israel dan Hizbullah Sepakat Hentikan Saling Serang
-
Wamenlu RI: Infrastruktur AI dan Data Center Picu Ancaman Baru Krisis Air Global
-
Konferensi Perjanjian Nuklir NPT Gagal Capai Kesepakatan, Sekjen PBB Kecewa
-
9 WNI Relawan Gaza Dibebaskan Israel, Komisi I DPR RI Apresiasi Diplomasi Kemlu
-
Menhan Tegaskan Peradilan Militer Bisa Hukum Lebih Berat Prajurit Pelaku Air Keras
Terpopuler
-
Diduga Menipu hingga Miliaran Rupiah, Pengusaha Kayu Lapis di Sukabumi Dilaporkan ke Polisi
-
Mendag Siapkan Tiga Permendag Baru Atur Ekspor CPO hingga Batu Bara via BUMN
-
IHSG Hari Ini Anjlok 4 Persen, Menkeu Purbaya Andalkan Fundamental Ekonomi
-
SBY: UMKM Kunci Ketahanan Ekonomi Hadapi Ketidakpastian Global 2026
-
Rencana Kunjungan Megawati ke Dili, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Temui Presiden Timor Leste
Terkini
-
Mendag Siapkan Tiga Permendag Baru Atur Ekspor CPO hingga Batu Bara via BUMN
-
IHSG Hari Ini Anjlok 4 Persen, Menkeu Purbaya Andalkan Fundamental Ekonomi
-
SBY: UMKM Kunci Ketahanan Ekonomi Hadapi Ketidakpastian Global 2026
-
Rencana Kunjungan Megawati ke Dili, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Temui Presiden Timor Leste
-
KPK Duga Wamen Imigrasi Silmy Karim Terima Uang Pemerasan Sejak Menjabat Dirjen