Matamata.com - Organisasi lingkungan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mengajak masyarakat, sektor swasta, hingga pemerintah untuk berkolaborasi mempromosikan pangan lokal. Langkah ini dinilai penting sebagai bentuk kebanggaan atas kekayaan pangan tanah air.
"Kita perlu kolaborasi yang kuat dari pemerintah dan sektor swasta, seperti perusahaan industri, untuk mempromosikan sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap konsumsi pangan lokal," ujar Business Engagement and Development Specialist WWF, Samuel Pablo Pareira, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (13/5).
Pablo menegaskan bahwa masalah pangan lokal yang kini sering menjadi pilihan kedua di masyarakat berkaitan erat dengan rantai pasok (supply), permintaan (demand), hingga strategi pemasaran.
Selama ini, ada anggapan keliru yang menilai pangan lokal tidak keren atau kampungan. Menurut Pablo, stigma tersebut harus dikikis melalui promosi dan kampanye masif yang menonjolkan nilai kebanggaan pangan khas setiap daerah.
Untuk mengatasinya, WWF telah bekerja sama dengan berbagai organisasi lokal dan komunitas di beberapa wilayah Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan untuk menjaga pola makan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Lebih lanjut, Pablo mengidentifikasi dua tantangan utama dalam pemanfaatan pangan lokal, yaitu pola konsumsi di daerah dan di wilayah urban (perkotaan).
Masyarakat di daerah diharapkan tetap bangga dan mempertahankan pola konsumsi yang sudah ada. Ia mencontohkan masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadikan sorgum sebagai sumber karbohidrat utama.
Sementara itu, untuk kawasan perkotaan, pengenalan pangan lokal dapat dilakukan dengan menggandeng industri ritel. Langkah ini diharapkan bisa mengedukasi warga kota agar tidak melulu mengonsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed food).
Pada kesempatan yang sama, pemengaruh (influencer) isu makanan dan lingkungan, Manik Nur Hidayati, turut mempromosikan beragam pangan lokal melalui konten edukatif. Upaya ini dilakukan untuk menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap kekayaan pangan asli Indonesia.
Selain ramah lingkungan, Manik mengingatkan bahwa gizi pangan lokal sangat beragam. Kandungan nutrisinya bahkan dinilai mampu memenuhi panduan porsi makan gizi seimbang yang dikampanyekan Kementerian Kesehatan melalui program "Isi Piringku". (Antara)
Baca Juga
Berita Terkait
-
Kementan Prioritaskan Peternak Rakyat dalam Pengembangan Industri Perunggasan Nasional
-
Prabowo Tuntaskan KTT ASEAN, Perkuat Kolaborasi Ketahanan Pangan dan Energi
-
TNI AD Kolaborasi dengan Kemenko Pangan, Ini 3 Fokus Utama Pengelolaan Sampah
-
DPR RI Pastikan Stok Beras dan Minyakita di Sumut Aman hingga 5 Bulan ke Depan
-
Stok Beras Tembus 5 Juta Ton, DPR Puji Akselerasi Swasembada Pangan Mentan Amran
Terpopuler
-
Prabowo Targetkan Dana Penyelamatan Negara Rp10 Triliun untuk Perbaikan Puskesmas dan Sekolah
-
Kasus Korupsi Chromebook: Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun Penjara
-
WWF Ajak Masyarakat hingga Swasta Kolaborasi Promosikan Pangan Lokal
-
Film "Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan" Resmi Menguras Air Mata di Bioskop Mulai Hari Ini
-
Menko Pangan Minta BGN Tingkatkan Serapan Telur Lewat Program Makan Bergizi Gratis
Terkini
-
Prabowo Targetkan Dana Penyelamatan Negara Rp10 Triliun untuk Perbaikan Puskesmas dan Sekolah
-
Kasus Korupsi Chromebook: Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun Penjara
-
Menko Pangan Minta BGN Tingkatkan Serapan Telur Lewat Program Makan Bergizi Gratis
-
DPR Wanti-wanti TVRI Jaga Kualitas Siaran Piala Dunia 2026
-
Kasus Korupsi Chromebook: Nadiem Makarim Jalani Sidang Tuntutan dan Bersiap Operasi