Elara | MataMata.com
Arsip foto - Presiden Ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono usai bertakziah atas wafatnya mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta, Minggu (29/3/2026). ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi/am.

Matamata.com - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan bahwa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan kunci utama dalam membangun ketahanan ekonomi, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global saat ini.

Saat menyampaikan pidato dalam The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, Kamis (4/6/2026), SBY menyebut dunia sedang memasuki era baru yang penuh tantangan. Mulai dari meningkatnya rivalitas geopolitik, konflik bersenjata di berbagai wilayah, hingga perubahan rantai pasok global.

Meski dihantam berbagai sentimen negatif global, SBY optimistis Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN memiliki tameng kuat menghadapi kondisi tersebut. Kekuatan itu terletak pada keberadaan jutaan pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian kawasan.

"Ketika guncangan global terjadi, sistem bisa melemah, investasi menjadi lebih berhati-hati, dan pasar internasional berfluktuasi,” ujar SBY.

“Namun, komunitas akar rumput tetap mampu beradaptasi, bertahan, dan bangkit kembali. Karena itu, pemberdayaan UMKM bukan sekadar agenda sosial, melainkan agenda ekonomi yang sangat strategis," lanjutnya.

SBY memaparkan, dari Indonesia, Vietnam, Filipina, hingga Thailand, jutaan UMKM terbukti terus menopang aktivitas ekonomi sehari-hari. Sektornya pun beragam, mulai dari perdagangan, manufaktur skala kecil, pertanian, perikanan, logistik, hingga usaha berbasis digital.

Menurut dia, negara yang berkomitmen memperkuat kewirausahaan akan memiliki ketahanan ekonomi yang jauh lebih kuat, partisipasi ekonomi yang lebih luas, serta stabilitas sosial yang lebih baik.

Pandangan ini, lanjut SBY, berkaca dari pengalaman pahit Indonesia saat dihantam rentetan krisis besar. Mulai dari Krisis Moneter Asia 1997-1998, bencana Tsunami Aceh 2004, hingga Krisis Keuangan Global 2008.

Ia menilai salah satu pelajaran berharga dari sejarah krisis tersebut adalah negara akan jauh lebih tangguh ketika masyarakatnya tetap aktif secara ekonomi, saling terhubung secara sosial, dan optimistis menatap masa depan.

Selain penguatan sektor riil UMKM, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini juga melihat pesatnya perkembangan teknologi sebagai peluang emas untuk memperluas inklusi ekonomi di negara-negara berkembang.

Kehadiran layanan keuangan digital (fintech), e-commerce, dan berbagai platform digital kini membuka gerbang bagi pelaku usaha kecil untuk mengakses pasar dan pembiayaan yang lebih luas.

Kendati demikian, SBY memberikan catatan kritis. Ia mengingatkan bahwa lompatan teknologi justru berpotensi memperlebar jurang kesenjangan sosial jika aksesnya timpang dan hanya dinikmati kelompok tertentu.

"Transformasi digital harus berjalan seiring dengan upaya memperluas inklusi, agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat," pungkas SBY. (Antara)

Load More