Matamata.com - Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, mendesak Kementerian Pertanian (Kementan) untuk segera mewujudkan swasembada bawang putih. Langkah tegas ini diperlukan mengingat ketergantungan Indonesia terhadap impor komoditas tersebut saat ini masih sangat tinggi, yakni mencapai 80 hingga 85 persen.
Dalam Rapat Kerja bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Badan Pangan Nasional di Jakarta, Rabu (10/6), Titiek mempertanyakan alasan program pengembangan bawang putih tidak tercantum dalam dokumen program kerja prioritas nasional. Ia menilai, upaya swasembada jangan hanya menjadi wacana tahunan tanpa realisasi konkret.
"Saya mau tanya lagi mengenai bawang putih, Pak Menteri. Kenapa kok tidak masuk lagi di program kerja prioritas nasional nih?" tanya Titiek kepada Mentan Andi Amran Sulaiman dalam sesi pendalaman rapat.
Menanggapi kritikan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa tidak tercantumnya program tersebut murni karena kesalahan penulisan (typo) dalam dokumen yang diserahkan ke DPR. Amran memastikan pengembangan bawang putih tetap menjadi agenda utama pemerintah pada tahun berjalan.
Sebagai bukti komitmen, Amran memaparkan bahwa Kementan telah menggeser anggaran sebesar Rp260 miliar pada tahun ini khusus untuk pengembangan bawang putih. Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut atas aspirasi yang disampaikan oleh Komisi IV DPR RI.
Meski demikian, Titiek kembali menegaskan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar ketersediaan anggaran, melainkan komitmen nasional. Terlebih, bawang putih merupakan komoditas yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
"Jadi kita harus sepakat semua, harus swasembada. Bapak (Menteri Pertanian) harus bikin targetnya, kapan mau swasembada?" tegas Titiek.
Merespons desakan tersebut, Mentan Amran menyatakan optimistis bahwa swasembada bawang putih dapat tercapai dalam waktu paling cepat tiga tahun dan paling lambat lima tahun. Namun, ia mengakui adanya tantangan biologis yang membuat produksinya tidak bisa secepat komoditas pangan lain.
"Tiga tahun paling cepat, paling lambat lima tahun. Masalahnya ada pada masa dorman (istirahat) benih, Bu. Seandainya seperti padi, saya sanggup dua tahun. Tapi tidur atau dormansi bibit bawang putih itu memakan waktu enam sampai delapan bulan," urai Amran.
Untuk mengejar target tersebut, Kementan telah menunjuk sejumlah daerah sebagai pusat pengembangan benih bawang putih nasional. Di antaranya adalah Sembalun di Nusa Tenggara Barat (NTB), Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara.
Melalui penguatan sentra benih dan perluasan areal tanam yang ditargetkan mencapai 18.000 hektare pada tahun depan, pemerintah berharap ketergantungan pada impor bawang putih dapat segera dipangkas. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Mentan Amran Usul Konsumsi Telur Makan Bergizi Gratis Naik 3 Kali Seminggu
-
DPR Dukung Gerak Cepat Mentan Amran Stabilkan Harga Telur dan Ayam
-
Dorong Kesejahteraan Petani, Mentan Amran Sulaiman Setujui Hilirisasi Kelapa dan Ubi Kayu di Maluku
-
Mentan Koordinasikan Rencana Kenaikan HET Minyakita ke Mendag dan Menko Pangan
-
Mentan Dorong Ekspor Pertanian dan CPO di Tengah Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Terpopuler
-
Harga Pertamax Naik: Ekonom Desak Bansos Tunai Digital demi Jaga Daya Beli
-
Bikin Haru! Main Film 'Takkan Kubiarkan Kau Menangis', Shanty Ingat Mendiang Ibu
-
Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz, Trump: Semuanya Sudah Berakhir bagi Iran
-
Mentan Amran Usul Konsumsi Telur Makan Bergizi Gratis Naik 3 Kali Seminggu
-
Titiek Soeharto Desak Kementan Targetkan Swasembada Bawang Putih dalam 3 Tahun
Terkini
-
Harga Pertamax Naik: Ekonom Desak Bansos Tunai Digital demi Jaga Daya Beli
-
Klaim AS Kendalikan Selat Hormuz, Trump: Semuanya Sudah Berakhir bagi Iran
-
Mentan Amran Usul Konsumsi Telur Makan Bergizi Gratis Naik 3 Kali Seminggu
-
KAI Angkut 21,56 Juta Ton Batu Bara, Sokong Logistik Nasional 2026
-
DPR Dukung Gerak Cepat Mentan Amran Stabilkan Harga Telur dan Ayam