Matamata.com - Pemerintah China resmi menjatuhkan sanksi terhadap Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr., beserta keluarganya. Sanksi tersebut berupa larangan memasuki wilayah China, termasuk Hong Kong dan Makau, akibat pernyataan Teodoro yang dinilai tidak bertanggung jawab dan memusuhi Beijing.
"Kementerian Luar Negeri telah mengumumkan keputusan untuk menjatuhkan sanksi terhadap Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. dan keluarganya. Ia adalah salah satu orang yang paling terang-terangan di antara segelintir orang yang memusuhi China di Filipina," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers di Beijing.
Selain larangan melintas, Beijing juga melarang organisasi maupun individu di China untuk terlibat dalam transaksi jual-beli, kerja sama, atau aktivitas bisnis apa pun dengan Teodoro dan keluarganya.
Berdasarkan pengumuman resmi Kemlu China, Teodoro disanksi karena berulang kali membuat pernyataan yang merusak kepentingan sah China dan menyabotase hubungan bilateral kedua negara. Lin Jian menuding tindakan Teodoro murni merupakan sandiwara politik demi keuntungan pribadi yang egois.
"Perilakunya yang sembrono akan menjadi bumerang. Retorika dan tindakannya yang beracun tidak ada hubungannya dengan 'membela bangsa'. Provokasi inilah yang memperburuk perselisihan China-Filipina," tegas Lin Jian.
Merespons hal tersebut, Departemen Luar Negeri Filipina di Manila menyatakan bahwa menjatuhkan sanksi adalah hak prerogatif China. Namun, Filipina memandangnya sebagai tindakan tidak ramah yang memperumit hubungan bilateral.
"Langkah-langkah tersebut tidak berkontribusi pada pembangunan kepercayaan timbal balik, pengelolaan perbedaan secara bertanggung jawab, atau menciptakan kondisi yang diperlukan untuk keterlibatan konstruktif antara kedua negara," tulis pernyataan resmi Pemerintah Filipina.
Sementara itu, Gilberto Teodoro Jr. menegaskan dirinya akan tetap menjalankan tugasnya seperti biasa. Ia menilai sanksi dari Beijing justru mengonfirmasi kebenaran dari kritik-kritik yang dilayangkannya selama ini.
"Sanksi China menggarisbawahi apa yang mereka lakukan terhadap mereka yang berbicara jujur melawan tipu daya mereka," balas Teodoro.
Sebagai informasi, Teodoro yang diangkat oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr. pada Juni 2023 dikenal sebagai kritikus paling vokal terhadap agresivitas China di Laut China Selatan dan isu Taiwan. Tahun lalu, ia bahkan menyebut klaim China di Laut China Selatan sebagai "fiksi dan kebohongan terbesar".
Di bawah kepemimpinannya, Manila terus memperdalam kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat melalui patroli bersama, serta menjajaki pakta keamanan baru dengan negara-negara seperti Jepang, Prancis, Kanada, dan Selandia Baru untuk membendung pengaruh China di kawasan. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Menhan AS Pete Hegseth Beri Peringatan Keras ke China soal Indo-Pasifik
-
Pangkas Kemiskinan di Atas 10 Persen, Indonesia Belajar Manajemen dari China
-
China Kritik Rencana Kenaikan Anggaran Pertahanan Jepang, Soroti Pengerahan Rudal AS
-
Kemenlu RI: Pertemuan Xi Jinping-Donald Trump Bawa Suasana Positif di SOM APEC 2026
-
Menlu Wang Yi Tegaskan Hubungan China-AS Stabil Harus Diwujudkan Lewat Langkah Nyata
Terpopuler
-
Dinas ESDM Riau Awasi Operasional Tambang Tanah Berizin di Kampar
-
Pertamina Jamin Stok Pertalite Aman dan Distribusi di SPBU Normal
-
Menpar Widiyanti Bahas Pariwisata Berkelanjutan dan Sektor Digital di UN Tourism
-
China Jatuhkan Sanksi dan Larang Menhan Filipina Masuk Wilayahnya
-
Profit Naik 45,1 Persen, Arkadia Digital Media Maksimalkan Produk dan Layanan Baru, Jaga Fundamental Keuangan
Terkini
-
Dinas ESDM Riau Awasi Operasional Tambang Tanah Berizin di Kampar
-
Pertamina Jamin Stok Pertalite Aman dan Distribusi di SPBU Normal
-
Menpar Widiyanti Bahas Pariwisata Berkelanjutan dan Sektor Digital di UN Tourism
-
Anggaran Belum Cair, 4 Pusat Makan Bergizi Gratis di Natuna Berhenti Operasi Sementara
-
Danantara Mulai Restrukturisasi BUMN, Fokus Benahi Data dan Model Bisnis