Detri Warmanto negatif Corona. (Instagram/@detriwarmanto)

Matamata.com - Soal kasus virus corona di Indonesia yang terus bertambah, aktor dan penyintas Covid-19, Detri Warmanto angkat bicara.  Detri mulai panik setelah sempat percaya diri takkan terinfeksi lagi karena berhasil sembuh. 

"Waktu itu ada yang bilang kalau kemungkinan yang sudah terpapar virus nggak bisa positif lagi, ternyata nggak. Stafnya Bima Arya (Walikota Bogor) saja sampai sebulan dua bulan positif terus," ujar Detri Warmanto dalam webinar bersama MataMata.com, Selasa (6/10/2020).

Detri Warmanto [Instagram/detriwarmanto]

Detri cemas dengan hal-hal yang tidak pasti semacam itu. Sempat santai buka tutup masker, kini ia tak pernah lagi menggantung maskernya di leher karena tak ada indikasi dan rumus pasti ihwal Covid-19 ini.

"Waktu itu kan saya dibilang kalau sudah pernah kena covid bakal kebal virus, ternyata nggak. Akhirnya pede tuh saya sempat buka tutup masker, taruh digantungin di leher. Sekarang nggak pernah tuh saya buka tutup lagi karena kondisinya begini," ujar Detri Warmanto lagi.

Detri Warmanto kini bisa dibilang sebagai yang paling ketat menerapkan protokol kesehatan untuknya dan keluarga. Sebab, ia tahu pasti virus corona semakin merajalela dan tak pandang bulu. "Karena kan kita harus sehigienis mungkin, katanya (virus) bisa nempel di leher dimana aja," sambungnya.

Detri Warmanto dan istri (Instagram/@detriwarmanto)

Ketua perhimpunan dokter Paru Indonesia, Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P (K) membenarkan pernyataan Detri Warmanto. Ia juga menjelaskan teori kebal virus corona bagi penyintas hanya berlaku tiga bulan sejak dinyatakan negatif.

"Pejabat pemerintah kita bilang nanti kebal kalau sudah kena, bahwa waktu itu kami aja sebagai dokter di awal-awal masih bingung karena belum ada datanya. Tapi sekarang kita sudah bisa buat statement dari berbagai jurnal dan ilmiah bahwa kalau seseorang sudah terkena covid bisa terbentuk antibodi. Tapi antibodi itu hanya bertahan tiga bulan paling lama," papar dokter Agus Dwi Susanto.

Tak hanya itu, tak semua orang memiliki antibodi yang sama. Oleh karena itu, tak semua hukum kebal bagi penyintas berlaku dengan waktu yang sama. "Kedua, tidak semua orang bisa terbentuk antibodi cukup. Artinya antibodinya belum tentu bisa cukup kuat mengatasi infeksi lagi," ujarnya.

Load More