Matamata.com - Sayup-sayup terdengar lantunan tembang lagu Jawa di sebelah sisi barat Pagelaran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya dari sebuah bangunan kuno yang hanya seluas 4x3 meter di jalan Rotowijayan Nomor 3 Yogyakarta. Mataku tertuju tajam pada lalu lalang pria tua, pria setengah tua, ibu-ibu lansia dan juga segelintir muda-mudi yang memasuki bangunan model lawas itu.
Saat itu, waktu menunjukan pukul 15.30 WIB. Rasa penasaran yang memuncak membuatku menyambangi bangunan itu yang bernama Pamulangan Sekar (Macapat) KHP. Kridha Mardawa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pertama kali ku jejalkan kaki di sana, aku disambut oleh seorang pria tua yang memiliki nada bicara halus dan lembut.
“Monggo mbak, mlebet mawon (silahkan mbak, masuk saja),” kata pria tua tersebut.
“Nama saya Kanjeng Mas Tumenggung Projo Suwarsono atau biasa disapa Rama Projo, saya sebagai abdi dalem Kraton Ngayogyakarta yang ditugasi oleh kraton untuk mengurusi sekolah macapat yang ada di Yogyakarta,” jelas Rama Projo.
Terpopuler
-
Bersama Dinda Kanya Dewi, Sherina Munaf akan Bintangi Film 'Filosofi Teras'
-
Kemenag Siapkan Pembentukan Ditjen Pesantren, Fokus Urus 42 Ribu Lembaga
-
DPR RI Minta Kemenlu Petakan Persebaran WNI di Meksiko Pasca-kerusuhan
-
Baznas RI Tetapkan Nisab Zakat Penghasilan 2026 Sebesar Rp7,6 Juta Per Bulan
-
Menaker Yassierli Targetkan Program Magang Nasional 2026 Jangkau Seluruh Provinsi
Terkini
-
Ungu Persembahkan Single Religi 'Pulang Pada-Mu', Kerinduan Hamba Kepada Tuhan-Nya di Tengah Hidup Yang Sibuk
-
5 Merk AC Terbaik yang Cepat Dingin, Awet, dan Hemat Listrik
-
5 Rekomendasi Kulkas Tahan Lama untuk Rumah di 2026
-
Miles Films Rayakan 30 Tahun Lewat Pameran Musik dan Film di Lokananta
-
Kesalahan Umum Karyawan Saat Memulai Usaha Sampingan