Matamata.com - Kebijakan di rumah selama pandemi Corona, tentu berimbas dengan segala aktivitas para seleb.
Terbiasa akting di depan layar kaca, kini para seleb juga harus pintar mencari jalan lain agar tetap mendapat pemasukan saat virus Corona mewabah.
Begitu pun dengan pasangan seleb Alessia Cestaro dan Ahmad Affandy. Meski keduanya dikenal sebagai seleb ternama, nyatanya mereka tak malu jualan nasi goreng di pinggir jalan.
Untuk menjawab rasa penasaran kamu, berikut MataMata.com rangkum 5 kekompakan Alessia Cestaro dan Ahmad Affandy yang terjun langsung mengurus bisnisnya.
Yuk Kepoin!
1. Buka warung nasi goreng
Nah, ini dia potret cantik Alessia Cestaro di depan warung nasi goreng miliknya yang diberi nama Raja Bugis 77.
2. Ahmad Affandy terjun langsung
Meskipun artis besar, Ahmad Affandy nampak tak sungkan melayani para pembeli secara langsung lho.
3. Bikin ngiler nih!
Agar usahanya semakin laris, keduanya juga gencar melakukan promosi lewat media sosial.
4. Didatangi seleb lain
Duh, warung nasi goreng Alessia Cestaro juga dibanjiri rekan artis lho. Salah satunya ada aktor laga Boy Hamzah.
5. Ada bisnis kerupuk
Selain jualan nasi goreng, Alessia Cestaro dan Ahmad Affandy juga membuka usaha kerupuk. Makin salut!
Berita Terkait
Terpopuler
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
-
Denmark Peringatkan AS: Upaya Rebut Greenland Bisa Jadi Lonceng Kematian NATO
-
Menteri PKP Targetkan Pembangunan Ratusan Rusun Subsidi Sepanjang 2026
-
Kemenhaj: Petugas Haji Wajib Berseragam dan Tidak Pakai Ihram saat Puncak Armuzna
-
Kumpulkan 1.200 Rektor, Presiden Prabowo Tekankan Pendidikan Tanpa Bebani Mahasiswa
Terkini
-
8 Tips Liburan Hemat ke Bandung yang Patut Dicoba
-
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Happy Catchy Studio dan Keluarga Resmi Luncurkan Didi Kempot AI, Inovasi Digital Pelestarian Warisan Budaya
-
Pameran 'SUARA Indonesia!' Hadir di Yogyakarta, Refleksi 20 Tahun Konvensi UNESCO tentang Keberagaman Budaya