Matamata.com - Film berjudul “Pengepungan di Bukit Duri” karya Joko Anwar menuai perhatian setelah pengumuman dan rilisnya cuplikan resmi baru-baru ini. Banyak pihak sempat menilai film bernuansa thriller politik ini dikhawatirkan hanya akan menimbulkan keresahan di masyarakat.
Namun, sang sutradara, Joko Anwar, dengan tegas membantah anggapan tersebut. Ia menyatakan bahwa film ini justru bertujuan untuk membuka ruang diskusi, bukan untuk menyebar ketakutan.
Joko Anwar menegaskan, pembuatan film “Pengepungan di Bukit Duri” didasari oleh keinginan untuk mengajak penonton berpikir kritis dan membangun dialog terkait isu yang diangkat.
“Kami tak pernah bermaksud untuk menakut-nakuti masyarakat lewat film ini. Tujuan kami adalah mengajak masyarakat untuk berdialog dan memahami peristiwa yang pernah terjadi secara lebih utuh,” jelas Joko dalam keterangan resminya.
Film ini terinspirasi dari peristiwa nyata yang terjadi di kawasan Bukit Duri pada masa silam, yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya dan menjadi bagian penting dalam narasi sejarah sosial-politik Indonesia.
Selain menyoroti aspek sejarah, film ini juga menyinggung isu-isu kemanusiaan, khususnya mengenai perlakuan terhadap warga sipil dan hak asasi manusia.
Joko menjelaskan bahwa tema besar dalam “Pengepungan di Bukit Duri” adalah pentingnya empati dan refleksi sejarah. Ia berharap masyarakat bisa mengambil hikmah serta pelajaran dari cerita yang disuguhkan.
“Setiap bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merefleksikan sejarahnya, dan film ini ingin berkontribusi pada upaya itu,” tegasnya.
Tak hanya dari dalam negeri, diskusi serta kontroversi seputar film ini juga mendapat sorotan dari media internasional. Banyak pihak menyandingkan intensitas kisahnya dengan sejumlah film berlatar sejarah perjuangan, bahkan hingga membandingkan pendekatan narasinya dengan kasus besar di luar negeri, seperti tragedi bom Oklahoma di Amerika Serikat.
Namun Joko Anwar menepis bahwa filmnya membawa pesan destruktif. “Kami tak pernah berusaha mendramatisasi ataupun membenarkan kekerasan atas nama apapun. Yang kami lakukan adalah membuka ruang dialog agar peristiwa-peristiwa serupa tak terulang dan bisa dipahami lebih jernih,” ujar Joko.
Lebih lanjut, Joko mengajak masyarakat untuk tidak menilai film hanya dari permukaan atau sekedar promonya saja. Ia mendorong setiap orang menyaksikan sendiri dan terbuka pada perspektif baru yang dihadirkan oleh film tersebut.
“Sebelum menyimpulkan atau menilai, sebaiknya tonton dulu filmnya. Saya ingin masyarakat berpikir kritis, bukan sekadar mengikuti opini yang beredar,” terang Joko.
Sutradara yang dikenal lewat karya-karya bernas ini juga percaya bahwa perfilman nasional perlu berani mengangkat isu-isu rumit dan kompleks, agar publik semakin terbiasa berdiskusi secara sehat dan dewasa.
Ia menekankan betapa pentingnya media seperti film untuk memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman publik terhadap sejarah bangsanya sendiri.
Hingga berita ini ditulis, “Pengepungan di Bukit Duri” menjadi salah satu film yang paling dinanti, baik oleh khalayak pecinta sejarah, kritikus, maupun masyarakat umum.
Dengan metode penceritaan yang objektif dan menggugah, Joko Anwar berharap film ini tidak saja jadi hiburan, tetapi juga pemicu dialog positif tentang rekonsiliasi dan penghormatan terhadap hak azasi manusia.
Berita Terkait
-
Bella Graceva dan Zikri Daulay Bintangi Film 'Pohon Waru', Kisahkan Iblis Perenggut Jiwa yang Malang
-
Film 'Papa Zola The Movie', Kisahkan Pejuang Keluarga
-
Celine Evangelista Merasa Dijebak di Film 'Penunggu Rumah Buto Ijo'
-
Biasa Dikelilingi Cowok, Ringgo Agus Rahman Girang Jadi yang "Paling Ganteng" di Film Terbaru
-
Gibran Rakabuming Apresiasi Konser Amal dan Film Timur untuk Korban Bencana Sumatera
Terpopuler
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
-
Denmark Peringatkan AS: Upaya Rebut Greenland Bisa Jadi Lonceng Kematian NATO
-
Menteri PKP Targetkan Pembangunan Ratusan Rusun Subsidi Sepanjang 2026
-
Kemenhaj: Petugas Haji Wajib Berseragam dan Tidak Pakai Ihram saat Puncak Armuzna
-
Kumpulkan 1.200 Rektor, Presiden Prabowo Tekankan Pendidikan Tanpa Bebani Mahasiswa
Terkini
-
Presiden Prabowo Melawat ke Inggris Pekan Depan, Bidik Kerja Sama Universitas Papan Atas
-
Denmark Peringatkan AS: Upaya Rebut Greenland Bisa Jadi Lonceng Kematian NATO
-
Menteri PKP Targetkan Pembangunan Ratusan Rusun Subsidi Sepanjang 2026
-
Kemenhaj: Petugas Haji Wajib Berseragam dan Tidak Pakai Ihram saat Puncak Armuzna
-
Kumpulkan 1.200 Rektor, Presiden Prabowo Tekankan Pendidikan Tanpa Bebani Mahasiswa