Matamata.com - Komika dan penulis Ryan Adriandhy belum lama ini membagikan kisah hidupnya yang penuh tantangan saat masa kecil. Melalui berbagai kesempatan, Ryan secara terbuka menceritakan perjuangannya melawan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) serta pengalaman pahit menjadi korban perundungan atau bullying selama bersekolah.
Pengakuan tersebut tak hanya membuka mata publik, tapi juga memberikan inspirasi bagi banyak orang yang mengalami situasi serupa. Ryan mengisahkan masa-masa sekolahnya yang dipenuhi dengan kesulitan fokus akibat ADHD.
Ia menyadari sejak kecil bahwa dirinya kerap kesulitan untuk mengikuti pelajaran di kelas. Bukan hanya itu, dorongan untuk terus bergerak dan berbicara pun sulit dibendung.
“Saya suka ngobrol sendiri atau bahkan mendadak berdiri di tengah pelajaran,” tutur Ryan seperti dikutip dari berbagai sumber.
Gangguan yang dialaminya seringkali membuat Ryan menjadi sasaran empuk perundungan oleh teman-temannya. Ia kerap dijuluki anak nakal atau dianggap tak bisa diatur. Tidak jarang, perlakuan ini membuat Ryan merasa terasing dan kurang percaya diri.
“Dulu waktu sekolah, saya sering dibully karena nggak bisa duduk tenang. Jadi bahan olok-olok teman, katanya saya nggak bisa diem,” ungkapnya.
Stigma terhadap ADHD belum sebanyak sekarang, sehingga Ryan mengaku tidak mendapatkan pemahaman ataupun dukungan yang cukup, baik dari lingkungan sekolah maupun sekitarnya.
Banyak orang menganggap perilakunya dilandasi kenakalan, padahal ia sendiri berjuang untuk tetap fokus belajar. Tidak jarang ia harus menerima hukuman guru karena dianggap mengganggu suasana kelas.
“Saya dipandang anak nakal, sering kena hukuman. Padahal saya juga bingung kenapa nggak bisa fokus kaya teman-teman lain,” ujar Ryan.
Tekanan demi tekanan yang diterima, baik dari teman sebaya maupun guru, sempat membuat Ryan merasa minder dan kesulitan mengembangkan potensinya.
Baca Juga
Namun, berkat dukungan keluarga serta keinginannya untuk bangkit, Ryan perlahan mulai belajar menerima kondisi dan mencari cara untuk menyesuaikan diri.
Ia mencari tahu lebih dalam tentang ADHD dan terus mengasah minatnya di bidang kreatif, terutama menulis dan stand up comedy. Dari situ, Ryan perlahan menemukan kepercayaan dirinya yang sempat terkikis akibat perundungan.
“Saya mulai berdamai dengan diri sendiri saat tahu ADHD itu bukan aib. Justru dari kekurangan ini, saya coba alihkan energi ke hal yang positif, seperti menulis dan komedi,” jelasnya.
Kini, Ryan Adriandhy dikenal sebagai sosok yang berhasil mengubah tantangan menjadi kekuatan, bahkan menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Dalam pesannya, Ryan berharap agar masyarakat semakin memahami bahwa kondisi kesehatan mental seperti ADHD bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan bahan ejekan atau justifikasi untuk melakukan bullying.
“Harusnya lebih banyak yang peduli dan paham, supaya anak-anak yang punya kondisi seperti saya dulu bisa meraih potensi, bukan malah dikecilkan,” tegasnya.
Dengan keterbukaan dan kisah perjuangannya, Ryan berharap dapat mendorong anak-anak lain serta keluarga mereka untuk tidak menyerah dan tetap berjuang di tengah keterbatasan.
“Kalau kita terima diri sendiri dan dapat support yang tepat, pasti bisa berkembang. Jangan biarkan omongan orang lain membatasi langkah kita,” tutupnya.
Kisah hidup Ryan Adriandhy menjadi pengingat pentingnya kepedulian lingkungan terhadap isu kesehatan mental di kalangan pelajar, sekaligus contoh nyata bahwa segala tantangan bisa diatasi dengan keberanian, penerimaan diri, dan dukungan yang tepat.
Berita Terkait
-
Gibran Ajak Anak Muda Tak Gentar Suarakan Aksi Lingkungan Meski Dibully
-
Ahmad Dhani Polisikan Seorang Perempuan karena Diduga Lakukan Perundungan terhadap Anaknya
-
Cinta Kuya Sering Jadi Korban Bully, Astrid Kuya Bongkar Luka Lama Putrinya: Ternyata Sudah Pendam Sejak Kecil
-
Dua Bulan Vakum Gegara Kasus Anak, Vincent Rompies Curhat Gak Punya Uang
-
Comeback usai 2 Bulan Hiatus Gegara Kasus Anak, Vincent Rompies Curhat Tak Bisa Kirim THR sama Hampers: Gak Ada Duit
Terpopuler
-
Wapres Gibran Lepas 150 Alumni LPDP Pejuang Digital ke Wilayah 3T
-
Polisi Ungkap Motif Penyiraman Air Keras di Bekasi, Pelaku Dendam Sejak 2018
-
Kemensos Salurkan Bantuan Rp11,70 Miliar untuk Korban Bencana Hidrometeorologi di Agam
-
KPK Usut Aliran Uang Pendaftaran Perangkat Desa dalam Kasus Bupati Pati Sudewo
-
Muhaimin Iskandar Ajak BUMN Fasilitasi PMI ke Jepang Lewat Program SMK Go Global
Terkini
-
Wapres Gibran Lepas 150 Alumni LPDP Pejuang Digital ke Wilayah 3T
-
Polisi Ungkap Motif Penyiraman Air Keras di Bekasi, Pelaku Dendam Sejak 2018
-
Kemensos Salurkan Bantuan Rp11,70 Miliar untuk Korban Bencana Hidrometeorologi di Agam
-
KPK Usut Aliran Uang Pendaftaran Perangkat Desa dalam Kasus Bupati Pati Sudewo
-
Muhaimin Iskandar Ajak BUMN Fasilitasi PMI ke Jepang Lewat Program SMK Go Global