Matamata.com - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Ace Hasan Syadzili, menilai langkah Kementerian Pertahanan untuk mengakuisisi kapal induk sebagai keputusan strategis yang tepat. Hal ini mengingat luasnya wilayah laut Indonesia yang membutuhkan pengawasan ekstra.
"Saya kira ini sesuatu yang memang dibutuhkan negara kita dalam rangka menjaga luas laut yang luar biasa, dari Sabang sampai Merauke," ujar Ace Hasan dalam jumpa pers di Kantor Lemhannas, Jakarta Pusat, Selasa (13/1).
Ace menekankan bahwa setiap jengkal laut Indonesia memiliki potensi kekayaan alam dan ekonomi yang besar, sehingga penguatan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) menjadi keharusan.
"Meskipun harus mempertimbangkan kemampuan fiskal, memperkuat kekuatan laut melalui peralatan canggih—termasuk memiliki kapal induk—kenapa tidak?" tambahnya.
Fokus Misi Kemanusiaan (OMSP) Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksamana Pertama TNI Tunggul, menjelaskan bahwa kapal induk yang sedang dalam proses akuisisi adalah Giuseppe Garibaldi milik Angkatan Laut Italia.
Tunggul menyebut kapal ini diprioritaskan untuk menjalankan misi Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti bantuan bencana alam, evakuasi kecelakaan skala besar, hingga pengiriman pasukan perdamaian ke wilayah konflik.
"Kapal ini sangat cocok untuk misi OMSP karena mampu mengangkut logistik dalam jumlah besar dan memiliki daya jelajah tinggi. Namun, tidak menutup kemungkinan kapal ini juga digunakan untuk misi operasi perang jika dibutuhkan," jelas Tunggul.
Spesifikasi Tempur dan Logistik Saat ini, TNI AL tengah melakukan proses akuisisi dengan pihak Italia. Kapal induk buatan Fincantieri ini memiliki panjang 180,2 meter dengan kecepatan maksimal mencapai 30 knot (56 km/jam).
Selain fungsinya sebagai pengangkut pesawat tempur, Giuseppe Garibaldi dilengkapi dengan sistem pertahanan mumpuni, antara lain:
Radar Jamming untuk pengamanan komunikasi.
Rudal Antipesawat Sea Sparrow/Selenia Aspide.
Tabung Torpedo rangkap tiga 324 mm.
Senjata Otomat Mk 2 SSM.
Baca Juga
Kapal ini memiliki basis teknologi yang serupa dengan dua kapal perang baru milik TNI AL, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, yang juga merupakan produksi perusahaan Italia, Fincantieri.
Tag
Berita Terkait
-
Kemenhut dan TNI AL Gagalkan Penyelundupan 200 Ton Arang Bakau ke Malaysia
-
Siap Operasikan Kapal Induk, 100 Prajurit TNI AL Bakal Digembleng di Italia
-
Gempur Pantai Sungailiat, TNI AL Kerahkan 9 Kapal Perang dan Ribuan Prajurit
-
Komisi I DPR Gelar Rapat Tertutup Bersama Menhan dan Panglima TNI Bahas Rencana Kerja 2026
-
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Jajaki Kerja Sama Industri Pertahanan di Turki
Terpopuler
-
Wakapolri Imbau Pemudik Hubungi Hotline 110 Jika Alami Gangguan di Jalan
-
Menko AHY: Tata Ruang Adalah Panglima dalam Pembangunan Infrastruktur
-
Saudi Kedepankan Diplomasi Redakan Eskalasi di Timur Tengah, Jamin Keamanan Haji
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Stok Beras Melimpah, Mentan Amran Lapor ke Presiden Prabowo Capaian PDB Pertanian Tertinggi dalam 25 Tahun
Terkini
-
Wakapolri Imbau Pemudik Hubungi Hotline 110 Jika Alami Gangguan di Jalan
-
Menko AHY: Tata Ruang Adalah Panglima dalam Pembangunan Infrastruktur
-
Saudi Kedepankan Diplomasi Redakan Eskalasi di Timur Tengah, Jamin Keamanan Haji
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Stok Beras Melimpah, Mentan Amran Lapor ke Presiden Prabowo Capaian PDB Pertanian Tertinggi dalam 25 Tahun