Matamata.com - Kementerian Agama (Kemenag) memperkenalkan konsep ekoteologi dan peran strategis agama sebagai sumber harmoni sosial dalam seminar internasional di rangkaian Cairo International Islamic Book Fair, Mesir.
Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Lubenah Amir, menegaskan bahwa agama memiliki peran kunci dalam menjawab tantangan global, terutama krisis ekologis dan kemanusiaan yang saat ini saling berkaitan.
“Dunia modern tengah menghadapi krisis yang saling memengaruhi: krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis makna, hingga krisis kepercayaan,” ujar Lubenah dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Menurut Lubenah, agama tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebagai praktik ritual atau identitas formal. Sebaliknya, agama harus hadir sebagai kekuatan moral yang memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, dengan Tuhan, dan dengan alam semesta.
Rahmat bagi Alam sebagai Landasan Lubenah menjelaskan, inti ajaran Islam adalah rahmat atau kasih sayang universal yang melampaui batas ruang dan waktu. Konsep ini menjadi landasan teologis bagi pengembangan ekoteologi dan pembangunan berkelanjutan berbasis agama di Indonesia.
“Pesan Islam sejak awal bersifat universal dan kosmik. Rahmat tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam,” tegasnya di hadapan peserta seminar internasional tersebut.
Meski demikian, ia mengakui adanya tantangan dalam praktik kehidupan modern. Nilai-nilai universal tersebut seringkali mengalami fragmentasi atau terputus dari kepekaan terhadap kerusakan lingkungan.
Implementasi Kebijakan Guna mengatasi hal tersebut, Kemenag berkomitmen menyulam kembali nilai-nilai luhur agama agar tidak sekadar menjadi wacana normatif, tetapi menjadi spirit dalam perilaku sosial dan kebijakan publik.
“Layanan keagamaan saat ini dirancang agar tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi juga implementatif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan,” tambah Lubenah.
Langkah ini mempertegas posisi Indonesia di forum internasional sebagai negara yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan cinta kasih dalam setiap prioritas kebijakan keagamaannya. (Antara)
Berita Terkait
-
Dubes Mesir Dukung Timnas Indonesia Berlaga di Piala Dunia 2030
-
KPK Targetkan Pelimpahan Kasus Korupsi Kuota Haji Yaqut Cholil Rampung Usai Musim Haji 2026
-
Menag Nasaruddin Umar Dorong Lembaga Pendidikan Terapkan Kurikulum Berbasis Cinta
-
Jadwal Haji 2026: Jamaah Embarkasi Padang Gelombang II Langsung Menuju Jeddah
-
Cegah Kekerasan Seksual, DPR Minta Kemenag Perketat Pengawasan Pesantren
Terpopuler
-
Didukung Sang Bunda, Jirayut jadi Pemeran Utama di Film 'Cek Khodam'
-
AS Dorong Diplomasi Energi Nuklir di ASEAN, Sebut Indonesia Punya Modal Kuat
-
Menko AHY: Penerbangan RI Mulai Gunakan SAF di 2027 demi Tekan Emisi
-
Mendes Yandri Bakal Digitalisasi Program Jaga Desa untuk Cegah Penyelewengan
-
JPU Tak Dapat Hadirkan 14 Saksi di PN Jakbar, Terdakwa Reinhart Muljadi dan Tim Kuasa Hukum Kecewa
Terkini
-
AS Dorong Diplomasi Energi Nuklir di ASEAN, Sebut Indonesia Punya Modal Kuat
-
Menko AHY: Penerbangan RI Mulai Gunakan SAF di 2027 demi Tekan Emisi
-
Mendes Yandri Bakal Digitalisasi Program Jaga Desa untuk Cegah Penyelewengan
-
Istri Mantan Menag Yaqut Apresiasi Langkah KPK Kabulkan Pembantaran Penahanan
-
Menteri ESDM Cari Solusi Kenaikan Harga Gas Industri demi Cegah PHK Massal