Elara | MataMata.com
(Kiri-kanan) Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno Marsudi dalam Water Townhall Meeting di Jakarta, Selasa (24/2/2026). (ANTARA/Bayu Saputra)

Matamata.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pengembangan pusat data (data center) di Indonesia wajib dibarengi dengan strategi menjaga ketersediaan air nasional.

AHY menyebut ekspansi industri digital yang masif berpotensi menekan pasokan air, mengingat air merupakan komponen vital dalam sistem pendingin perangkat teknologi tersebut.

"Kita ingin membangun data center di seluruh Indonesia, bahkan menjadi hub di Asia Tenggara. Namun, kita butuh air untuk sistem pendinginnya (industrial boilers). Ini harus dihitung dengan cermat," ujar AHY dalam Water Town Hall Meeting di Jakarta, Selasa (24/2).

Dalam forum yang sama, Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, menyoroti betapa intensifnya penggunaan air dalam industri ini. Berdasarkan perhitungan teknis, setiap 1 megawatt (MW) beban TI (IT load), sistem pendingin berbasis evaporasi dapat mengonsumsi 1,5 hingga 3 juta liter air per bulan.

Retno menekankan bahwa pengelolaan air tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral atau terpisah (silo). Menurutnya, air adalah penggerak (enabler) bagi banyak sektor, mulai dari pertanian, kesehatan, hingga energi.

"Air mengajarkan kita satu hal: krisis ini tidak bisa diselesaikan sendirian. Kita harus meninggalkan pendekatan yang berdiri sendiri-sendiri," tegas mantan Menteri Luar Negeri RI tersebut.

Retno juga memaparkan aspek ekonomi dari investasi sektor air. Mengutip data Bank Dunia, setiap investasi sebesar 1 dolar AS di sektor air dapat memberikan pengembalian ekonomi hingga 6,8 dolar AS. Pengembalian ini mewujud dalam bentuk peningkatan produktivitas, pengurangan biaya kesehatan, hingga stabilitas sosial.

Saat ini, kebutuhan pendanaan global untuk sektor air mencapai 600 miliar dolar AS per tahun. Namun, masih terdapat kesenjangan pendanaan sekitar 131-140 miliar dolar AS per tahun untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) keenam terkait air bersih dan sanitasi.

"Tantangan pembiayaan ini kompleks karena air menghubungkan lintas sektor. Sektor pertanian saja menyerap 72 persen penggunaan air tawar global. Maka, pendekatan pembiayaannya pun harus kolaboratif," tutup Retno. (Antara)

Load More