Matamata.com - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa industri kelapa sawit di Indonesia telah menerapkan prinsip keberlanjutan yang ketat. Langkah ini diambil untuk menjawab tuntutan pasar global sekaligus memastikan komoditas perkebunan tersebut tetap ramah lingkungan.
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementan, Kuntoro Boga Andri, membantah tudingan bahwa lahan sawit menyebabkan deforestasi. Ia menekankan bahwa seluruh pelaku industri wajib mengantongi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sesuai Permentan Nomor 33 Tahun 2025.
"Standar yang kita berikan diakui negara lain. Sebagai produsen terbesar dunia, kita memiliki nilai keberlanjutan yang universal. Sawit terbukti ramah lingkungan dan memberikan dampak positif bagi ekosistem," ujar Kuntoro dalam 1st International Environment Forum 2026 di Jakarta, Jumat (24/4).
Kuntoro menambahkan, sawit memegang peran krusial dalam ketahanan energi nasional. Indonesia dijadwalkan mulai mengimplementasikan program B50, yakni penggunaan minyak sawit sebesar 50 persen untuk bahan bakar nabati (biofuel) pada Juli 2025.
Saat ini, Indonesia memasok 62 persen kebutuhan sawit dunia. Dengan produktivitas 5 hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya, sawit menjadi komoditas paling efisien dalam penggunaan lahan.
Berdasarkan data Ditjen Perkebunan tahun 2025/2026, luas areal kelapa sawit Indonesia mencapai 16,83 juta hektare. Sektor ini menyumbang devisa non-migas hingga Rp 440 triliun pada 2024 dan menyerap 16 juta tenaga kerja.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Musdhalifah Machmud, menyatakan bahwa tuduhan negatif terhadap sawit seringkali tidak berbasis data. Mengutip data World Wide Fund for Nature (WWF) UK, ia memaparkan bahwa perkebunan sawit global hanya menggunakan 6-11 persen dari total lahan minyak nabati dunia.
"Lahan sawit di dunia hanya 28,85 juta hektare, namun mampu memproduksi 80 juta ton minyak nabati. Sawit memenuhi 34 persen kebutuhan pangan dunia hanya dengan menggunakan 7 persen lahan," jelas Musdhalifah.
Ia membandingkan dengan kedelai (soybean) yang membutuhkan lahan 100-200 juta hektare, namun kontribusinya hanya 15-20 persen. Menurutnya, jika sawit digantikan oleh komoditas lain, dunia justru akan menghadapi krisis lahan yang jauh lebih parah.
"Jika produksi sawit digantikan kedelai atau bunga matahari, dunia akan membutuhkan tambahan ratusan juta hektare lahan baru untuk mencapai volume produksi yang sama," tutupnya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Prabowo: Masih Ada Ribuan Triliun Kekayaan Negara yang Harus Diselamatkan
-
Rupiah Tembus Rp17.503 per Dolar AS, Tertekan Konflik Selat Hormuz dan Isu PHK Dalam Negeri
-
Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, Menteri Rosan: Investasi Jadi Motor Resiliensi Nasional
-
Mentan Amran Cabut Izin Distributor Pupuk Subsidi Usai Terima Laporan Mahasiswa BEM
-
Realisasi APBN Kuartal I 2026: Pendapatan Negara Rp574,9 T, Defisit 0,93 Persen terhadap PDB
Terpopuler
-
Pariwisata Berkelanjutan KEK Mandalika, ITDC Targetkan Tanam 15.000 Mangrove di 2026
-
Viral Merokok dan Main Gim saat Rapat Stunting, Anggota DPRD Jember Disidang Etik Gerindra
-
Aturan Buang Sampah Palembang: Pelanggar Didenda Rp500 Ribu Mulai Hari Ini
-
Menko Pangan Targetkan Pembangunan 2.000 Kampung Nelayan di Indonesia pada 2026
-
Penebusan Pupuk Subsidi Naik 36 Persen, Pupuk Indonesia Genjot Optimalisasi Distribusi
Terkini
-
Pariwisata Berkelanjutan KEK Mandalika, ITDC Targetkan Tanam 15.000 Mangrove di 2026
-
Viral Merokok dan Main Gim saat Rapat Stunting, Anggota DPRD Jember Disidang Etik Gerindra
-
Aturan Buang Sampah Palembang: Pelanggar Didenda Rp500 Ribu Mulai Hari Ini
-
Menko Pangan Targetkan Pembangunan 2.000 Kampung Nelayan di Indonesia pada 2026
-
Penebusan Pupuk Subsidi Naik 36 Persen, Pupuk Indonesia Genjot Optimalisasi Distribusi