Matamata.com - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan harga pupuk subsidi tetap stabil dan tidak akan mengalami kenaikan. Jaminan ini diberikan meskipun jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz, Timur Tengah, tengah ditutup dan memicu kekhawatiran global.
Langkah ini diambil untuk memastikan petani tetap terlindungi serta menjaga produktivitas pertanian nasional tetap berjalan optimal.
"Aman, aman (harga pupuk tidak akan terkoreksi). Kenapa? Itu perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto," tegas Amran usai rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Amran menjelaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah strategis dengan menurunkan harga pupuk subsidi hingga 20 persen. Menurutnya, kebijakan ini merupakan capaian bersejarah bagi sektor pertanian Indonesia.
Selain penurunan harga, pemerintah juga meningkatkan volume pupuk subsidi guna mencukupi kebutuhan produksi di berbagai daerah sentra pertanian.
"Di era Bapak Presiden Prabowo Subianto, harga pupuk subsidi diturunkan 20 persen dan kuantumnya dinaikkan. Ini kebijakan luar biasa," tambah Mentan.
Untuk tahun 2026, pemerintah menyiapkan volume pupuk subsidi sebanyak 9,8 juta ton yang ditargetkan menyasar 14,1 juta petani di seluruh Indonesia.
Senada dengan Mentan, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, memastikan stok pupuk nasional dalam kondisi aman. Ia menegaskan bahwa konflik di Selat Hormuz yang mengganggu jalur logistik dunia tidak akan mengguncang ketersediaan pupuk di dalam negeri.
"Alhamdulillah, stok aman. Kita memiliki 1,29 juta ton stok, dan seluruh pabrik beroperasi dengan baik. Posisi ini akan terus kita pertahankan," ujar Rahmad.
Rahmad mengakui bahwa Selat Hormuz adalah urat nadi distribusi pupuk dunia yang menyumbang sekitar 30 persen perdagangan global setiap bulannya. Namun, kemandirian industri pupuk nasional membuat Indonesia memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan negara lain.
"Hingga hari ini, meskipun dunia gonjang-ganjing, Pupuk Indonesia justru berfungsi sebagai penyelamat ekosistem pangan. Negara besar seperti Brasil, Amerika Serikat, hingga Australia mulai terdampak gangguan pasokan, namun kita tetap stabil," jelasnya.
Sebelumnya, Rahmad juga telah menegaskan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI bahwa Harga Eceran Tertinggi (HET) tidak akan berubah.
"HET sudah turun 20 persen dan tidak ada rencana untuk menaikkannya kembali. Artinya, harga tetap," pungkas Rahmad. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Tim Kepresidenan Rilis Buku 'Presiden Solusi', Dokumentasikan 108 Kebijakan Prabowo Subianto
-
Said Iqbal Dilantik Jadi Penasihat Khusus Presiden Prabowo Bidang Ketenagakerjaan
-
Ada Anomali Harga Sawit, Mentan Amran: Perintah Presiden, Bela 15 Juta Petani
-
Golkar Desak Badan Gizi Nasional Jamin Transparansi Penunjukan Titik SPPG
-
Respons KPK Terkait Instruksi Presiden Prabowo Soal Penguatan Anggaran Pemberantasan Korupsi
Terpopuler
-
Jadi Angin Segar di Film Nobody Loves Kay, Aurora Ribero Menyuarakan tentang Mimpi
-
Kompak Irit Bicara, Luhut dan Chatib Basri Tiba-Tiba Datangi Prabowo di Istana, Ada Apa?
-
Siap-siap! Menkeu Bakal Perketat Efisiensi Anggaran dan Skema Bansos di 2027
-
Satu Studio Nangis Massal, Ini 3 Alasan Film 'Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan' Jadi Suara Hati Keluarga
-
Menkeu Purbaya Beberkan Strategi Kejar Pertumbuhan Ekonomi hingga 6,5 Persen di 2027
Terkini
-
Kompak Irit Bicara, Luhut dan Chatib Basri Tiba-Tiba Datangi Prabowo di Istana, Ada Apa?
-
Siap-siap! Menkeu Bakal Perketat Efisiensi Anggaran dan Skema Bansos di 2027
-
Menkeu Purbaya Beberkan Strategi Kejar Pertumbuhan Ekonomi hingga 6,5 Persen di 2027
-
Batas Pensiun Kapolri Bisa Diperpanjang Presiden, Mensesneg: Sesuai Kebutuhan
-
Bapanas Kawal Mutu Beras Ekspor ke Malaysia, Bulog Sebut Harga di Atas HET