Matamata.com - Pemerintah China mengkritik keras langkah Amerika Serikat (AS) yang melakukan blokade terhadap jalur maritim di Selat Hormuz. Beijing menilai tindakan sepihak Washington pasca-kegagalan perundingan di Islamabad tersebut tidak akan menyelesaikan akar masalah konflik.
"Akar penyebab gangguan di Selat Hormuz adalah konflik militer. Untuk menyelesaikan masalah ini, konflik harus dihentikan sesegera mungkin," tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (14/4/2026).
Guo mengingatkan bahwa Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan internasional, terutama untuk komoditas energi. Ia menegaskan, stabilitas di wilayah tersebut adalah kepentingan bersama komunitas global.
Ancaman 'Eliminasi' dari Trump Ketegangan ini memuncak setelah Komando Pusat (CENTCOM) AS mulai memberlakukan blokade total pada Senin (13/4) pukul 14.00 waktu setempat. Langkah ini diambil atas instruksi Presiden Donald Trump menyusul buntuya negosiasi antara Washington dan Teheran.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump memberikan peringatan keras bahwa kapal-kapal Iran akan "dimusnahkan" jika nekat mendekati zona blokade.
"Jika ada kapal (Iran) yang mendekati blokade kami, mereka akan segera dieliminasi menggunakan sistem yang sama dengan yang kami gunakan terhadap pengedar narkoba," tulis Trump.
Eskalasi ini bermula dari gagalnya kesepakatan dalam pertemuan tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4). Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance pulang tanpa hasil.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menuding sikap "maksimalis" dan ancaman blokade dari Angkatan Laut AS sebagai penyebab utama gagalnya nota kesepahaman (MoU).
"Kami terlibat dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Namun, saat tinggal selangkah lagi menuju 'MoU Islamabad', kami justru menghadapi tuntutan yang berubah-ubah. Permusuhan hanya akan melahirkan permusuhan," ujar Araghchi via akun X miliknya.
Merespons blokade AS, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman tandingan. Mereka menyatakan bahwa tidak ada pelabuhan di Teluk dan Laut Oman yang akan aman selama blokade diberlakukan. IRGC menegaskan akan melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh untuk melintasi selat tersebut.
Pantauan terkini menunjukkan pengiriman melalui Selat Hormuz berhenti total. Kapal-kapal tanker mulai berbalik arah guna menghindari zona konflik. Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak bumi dan gas alam cair (LNG) dunia. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Pezeshkian: Iran Siap Capai Kesepakatan Adil dengan AS, Asal Tak Ada Standar Ganda
-
Lebanon Minta Bantuan Pakistan untuk Hentikan Serangan Israel
-
Redam Ketegangan, China 'Turun Tangan' Satukan Pakistan dan Afghanistan di Urumqi
-
Mentan Jamin Harga Pupuk Subsidi Tetap Stabil di Tengah Krisis Selat Hormuz
-
DK PBB Gagal Adopsi Resolusi Selat Hormuz, Rusia dan China Gunakan Hak Veto
Terpopuler
-
Blokade Selat Hormuz: China Sebut Langkah Amerika Serikat Tak Selesaikan Masalah
-
Prabowo Tiba di Paris, Siap Bertemu Macron Bahas Kerja Sama Strategis dan Stabilitas Global
-
Lulu Tobing Hilang Ingatan di Film 'Yang Lain Boleh Asal Kau Jangan'
-
Maraton 5 Jam di Kremlin, Prabowo dan Putin Sepakati Kerja Sama Energi hingga Hilirisasi
-
Pemprov Jabar Luncurkan Aplikasi Imah Aing, Ajukan Bantuan Rutilahu Kini Lebih Praktis
Terkini
-
Prabowo Tiba di Paris, Siap Bertemu Macron Bahas Kerja Sama Strategis dan Stabilitas Global
-
Maraton 5 Jam di Kremlin, Prabowo dan Putin Sepakati Kerja Sama Energi hingga Hilirisasi
-
Pemprov Jabar Luncurkan Aplikasi Imah Aing, Ajukan Bantuan Rutilahu Kini Lebih Praktis
-
Dirut Bulog: Malaysia Minta Impor Beras 200 Ribu Ton dari Indonesia
-
Bulog Jamin Harga Beras Tetap Stabil meski Biji Plastik Langka