Elara | MataMata.com
Rokok. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Matamata.com - Para petani tembakau dan cengkeh mendesak pemerintah untuk memberikan perlindungan terkait Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) tentang penyeragaman kemasan rokok tanpa atribut merek. Aturan yang diinisiasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tersebut dinilai bakal memukul telak mata pencaharian mereka di hulu.

Ketua Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI), Agus Parmuji, menegaskan bahwa pasal-pasal dalam RPMK tersebut sangat menyulitkan petani dan tidak sesuai dengan realitas ekosistem pertembakauan di daerah.

"Tolong dikaji ulang seluruh RPMK ini," ujar Agus di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Agus menjelaskan, komoditas tembakau di sejumlah wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) terbukti menjadi urat nadi perekonomian warga. Bahkan, Nilai Tukar Petani (NTP) dari sektor ini jauh lebih baik dibandingkan komoditas pertanian lainnya.

Terlebih lagi, saat ini para petani sedang memasuki musim tanam. Di tengah ancaman musim kemarau, praktis hanya tanaman tembakau yang bisa diandalkan sebagai penopang ekonomi daerah.

Senada dengan APTI, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), I Ketut Budhyman, juga menyatakan penolakan keras terhadap substansi penyeragaman kemasan rokok tersebut. Menurutnya, regulasi ketat ini mengabaikan nasib 1,5 juta petani cengkeh yang tersebar di 10 provinsi di Indonesia.

Budhyman membeberkan data bahwa sekitar 97 persen dari total produksi cengkeh nasional diserap seutuhnya oleh Industri Hasil Tembakau (IHT) untuk produk rokok kretek.

"Memaksakan aturan seketat ini, pasti yang terdampak di hulu adalah petani tembakau dan petani cengkeh," kata Budhyman.

Ia juga menyayangkan langkah Kemenkes yang mengadopsi standar (benchmarking) dari negara luar yang karakteristiknya jauh berbeda dengan Indonesia.

"Negara yang dijadikan rujukan oleh Kemenkes adalah negara yang bukan penghasil tembakau dan cengkeh. Bukan negara yang masyarakatnya hidup dari ekosistem pertembakauan. Jadi perbandingannya tidak apple-to-apple," pungkasnya. (Antara)

Load More