Matamata.com - Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas. Korps Garda Revolusi Islam Iran diduga menyerang sebuah kapal kargo berbendera Singapura tanpa peringatan di jalur laut strategis tersebut.
Laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada Kamis (25/6/2026), yang mengutip sejumlah pejabat dan pelaut Amerika Serikat (AS), menyebutkan bahwa Angkatan Laut Iran tidak melepaskan peringatan radio apa pun atau memerintahkan kapal untuk berbalik arah sebelum melepaskan tembakan. Meski tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, pusat kendali kapal kargo itu dilaporkan mengalami kerusakan serius.
Dugaan serangan ini terjadi di tengah upaya internasional mengamankan jalur tersebut. Pada Selasa (23/6/2026), Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) Arsenio Dominguez mengumumkan dimulainya evakuasi ribuan pelaut dari kapal-kapal yang terdampar di Teluk Persia. Namun, Dominguez mengonfirmasi bahwa kapal Singapura yang rusak tersebut tidak sedang transit dalam rangka operasi evakuasi IMO.
Selat Hormuz tetap menjadi urat nadi energi global yang sibuk meski situasi tidak kondusif. Menteri Energi AS Chris Wright mengungkapkan pada Rabu (24/6/2026) bahwa lebih dari 70 kapal yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak tetap bergerak melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir.
Insiden ini dinilai ironis karena terjadi hanya seminggu setelah upaya diplomasi de-eskalasi. Pada malam menjelang 18 Juni 2026, Iran dan AS baru saja menandatangani memorandum untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.
Dalam dokumen tersebut, AS berkomitmen mencabut blokade laut di pelabuhan Iran, sementara Iran berjanji memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Selain itu, Teheran berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir, dengan klausul bahwa program nuklir akan diselesaikan lewat perjanjian terpisah.
Kedua belah pihak dijadwalkan mengadakan negosiasi lanjutan dalam waktu 60 hari. Bagi Teheran, pencabutan sanksi ekonomi tetap menjadi prioritas utama, namun dugaan serangan ini diprediksi akan mempersulit posisi tawar mereka di meja perundingan. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
China Dukung Perundingan AS-Iran di Swiss demi Stabilitas Timur Tengah
-
Pakar: Agresi Israel ke Lebanon Ganjal Kesepakatan Damai AS-Iran
-
Danantara: Perdamaian AS-Iran Berdampak Positif Bagi Ekonomi RI dan Stabilitas Fiskal
-
KTT Prancis: G7 Sepakat Tambah Bantuan Militer Ukraina dan Sambut Kesepakatan AS-Iran
-
China Dukung Kesepakatan Damai AS-Iran dan Pembukaan Selat Hormuz
Terpopuler
-
Menhut Raja Juli Antoni Luncurkan Nature Finance untuk Konservasi Taman Nasional
-
Iran Diduga Serang Kapal Kargo Singapura di Selat Hormuz
-
Menteri ESDM Bahlil Pastikan Pasokan Batu Bara PLTU Sudah Aman dan Lancar
-
Pengusaha Sandiana Soemarko, Mengedepankan Kepedulian Sosial di Indonesia
-
Didukung Sang Bunda, Jirayut jadi Pemeran Utama di Film 'Cek Khodam'
Terkini
-
Menhut Raja Juli Antoni Luncurkan Nature Finance untuk Konservasi Taman Nasional
-
Menteri ESDM Bahlil Pastikan Pasokan Batu Bara PLTU Sudah Aman dan Lancar
-
AS Dorong Diplomasi Energi Nuklir di ASEAN, Sebut Indonesia Punya Modal Kuat
-
Menko AHY: Penerbangan RI Mulai Gunakan SAF di 2027 demi Tekan Emisi
-
Mendes Yandri Bakal Digitalisasi Program Jaga Desa untuk Cegah Penyelewengan