Matamata.com - AMUBA mungkin kedengarannya sedikit asing di telinga Anda para penikmat musik. Bagi orang kebanyakan, barangkali lebih mengenal Amoeba sebagai spesies makhluk yang berukuran kecil dan mampu membelah diri.
Namun, AMUBA yang satu ini ini merupakan girlband pertama yang digawangi para waria. Girlband ini beranggotakan Tamara Pertamina, Jessica Ayu, Vanessa Moriz, dan Nike Faradila.
Tamara Pertamina-lah yang pertama kali menjadi inisiator terbentuknya girlband AMUBA pada tahun 2012.
"Jadi AMUBA itu memiliki arti seperti memberikan semangat yang akhirnya terbelah dan menempel kepada queer lain gitu. Inginnya kami juga menunjukkan kepada masyrakat jangan pandang waria sebelah mata," sebut Vanessa.
Awalnya, mereka ingin membuat sebuah terobosan baru, di mana biasanya waria lebih terbiasa dengan penghasilan yang terbilang instan (sebagian besar memiliki profesi sebagai pengamen dan juga pekerja seks).
"Di samping manggung dari satu ke tempat lain, kami juga punya kesibukan masing-masing. Saya sendiri sehari-hari sekarang lebih fokus mengelola bisnis saya di bidang kuliner, yang lain masih ada ngamen atau sebagai pekerja seks gitu" tutur Vanessa, Minggu (20/10/19).
Seiring berjalannya waktu, ternyata kreativitas keempat personel girlband AMUBA dari Yogyakarta ini berbuah hasil.
Dari panggung ke panggung, nama AMUBA mulai melejit. Tak ketinggalan, keempat personel ini selalu kompak dengan tampilan yang nyentrik dan lagu penuh makna.
Bukan membawakan lagu dari orang lain, musik yang dibawakan AMUBA sangat spesial. AMUBA sendiri telah memiliki 4 lagu yang dikarang sendiri bersama rekan sesama seniman mereka.
Jessica, yang merupakan personel termuda dalam girlband waria itu mengatakan, bahwa lagu mereka sarat akan makna dan kisah mendalam.
Bukan hanya untuk kaum minoritas saja seperti waria, melainkan seluruh lapisan masyarakat.
"Open The Sky, ini punya makna tentang penerimaan terhadap diri kita sendiri sebagai kaum minoritas, kemudian Isyarat Hati dengan cerita cinta kasih di dalamnya. Lalu ada All Control The Religion, semua sistem masyarakat di Indonesia ini mengapa dikontrol sekali oleh agama, kita dituntut untuk menggunakan akal, lalu judul lagu terakhir yakni Don't Judge ini berkaitan dengan penindasan kaum minoritas gitu, pokoknya meaning banget deh," imbuh Jessica.
Ketika ditanya soal harapan, mereka ingin lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan jika memungkinan di dunia internasional.
Rencananya pada acara Biennale Jogja 2019 mereka akan tampil berempat dan membawakan empat buah lagu.
Berhubung Tamara Pertamina sedang ada keperluan di London, penampilan mereka dalam acara Biennale Jogja 2019 akan diwakili oleh salah seorang personel lain bernama Cipi.
Berita Terkait
-
DPR Desak Evaluasi Total Aturan Daycare Pasca-kasus Kekerasan Anak di Yogyakarta
-
Kementerian Kebudayaan Dukung Gelaran Hari Wayang Dunia 2026 di Yogyakarta
-
Sultan HB X Gelar Prosesi Jejak Banon, Tradisi Langka yang Hanya Digelar Setiap Delapan Tahun
-
Sultan HB X: Aspirasi Mahasiswa Harus Disampaikan Tanpa Kekerasan
-
Dukung Pendidikan Anak Usia Dini, Mahasiswa UMB Yogyakarta Gelar KKN di Dusun Jatirejo
Terpopuler
-
Diduga Menipu hingga Miliaran Rupiah, Pengusaha Kayu Lapis di Sukabumi Dilaporkan ke Polisi
-
Mendag Siapkan Tiga Permendag Baru Atur Ekspor CPO hingga Batu Bara via BUMN
-
IHSG Hari Ini Anjlok 4 Persen, Menkeu Purbaya Andalkan Fundamental Ekonomi
-
SBY: UMKM Kunci Ketahanan Ekonomi Hadapi Ketidakpastian Global 2026
-
Rencana Kunjungan Megawati ke Dili, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Temui Presiden Timor Leste
Terkini
-
Tayang Hari Ini! Nobody Loves Kay Jadi Suara Perjuangan Gen Z Mengejar Mimpi dan Pembuktian
-
Bukan Pahlawan, Bukan Iblis: Badut Gendong Bawakan Sosok Anti-Hero Wong Kalahan di Layar Lebar Indonesia
-
Jelang Pementasan Perdana, Jersey Boys the Musical Siap Hidupkan Era Frankie Valli di Jakarta
-
Ketika Cinta Menjelma Jadi Dendam Mematikan: 'Badut Gendong' Resmi Meneror Bioskop Mulai Hari Ini
-
Ketika Semesta Qodrat Menyambut Lahirnya Teror Badut Gendong, yang Siap Mengoyak Jagat Sinematik Horor Indonesia!