Matamata.com - Setelah kebakaran dahsyat pada tahun 2015, negara Indonesia mendirikan proyek-proyek pemulihan dan mitigasi kebakaran yang berfokus pada Masyarakat Adat dan praktik kebakaran mereka.
Oleh karena itu, Masyarakat Adat, seperti suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, kini memainkan peran krusial dalam brigade pemadam kebakaran berbasis komunitas di tingkat desa.
Kebakaran besar kembali melanda pada tahun 2023, menghancurkan sekitar 1,16 juta hektar area hutan, sebagian besar di Kalimantan dan Sumatra.
Kebakaran pada tahun 2023 berdampak pada kesehatan, ekonomi, dan ekologi yang besar bagi masyarakat Indonesia dan negara-negara tetangga.
Di masyarakat Indonesia, kebakaran dahsyat ini memicu kembali perdebatan yang menuduh Masyarakat Adat dan praktik pertanian tradisional mereka.
Film dokumenter berjudul Gestures of Care yang disutradarai oleh Aryo Danusiri telah ditayangkan perdana di Indonesia di JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) 2025 pada tanggal 4 Desember 2025.
Film Gestures of Care merupakan salah satu film yang ditayangkan dalam program Indonesian Film Showcase, yang menampilkan delapan film panjang dari Indonesia lainnya.
Film dokumenter Gestures of Care merupakan salah satu luaran dari proyek Fire Play, yaitu proyek penelitian di bawah Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia, juga Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial dan Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
Gestures of Care merupakan film dokumenter yang, ketimbang melihat dampak kebakaran hutan dan ladang secara umum di Kalimantan Tengah, berupaya untuk menangkap kerja-kerja dari tokoh-tokoh spesifik dalam situasi krisis.
Dalam kata lain, menyoroti kerja-kerja yang seringkali luput dalam narasi besar kebencanaan di Indonesia. Aryo Danusiri, sutradara Gestures of Care, melihat bahwa world premiere di JAFF adalah bukti bahwa film riset tidak hanya terbatas untuk kalangan akademik, tetapi juga dapat dinikmati dan membangun dialog dengan publik lebih luas.
Selebihnya, Charlie Rizky, sinematografer Gestures of Care, berharap film ini “tidak hanya membuka mata, tetapi juga mendorong langkah nyata, mulai dari peningkatan kesiapsiagaan, dukungan terhadap para pemadam, hingga kebijakan yang lebih serius dalam perlindungan dan restorasi gambut.”
Film ini mendapatkan tanggapan positif dari audiens, “Filmnya keren! Cerita pengalaman ketubuhan sehari-hari sebagai bagian dari “care” dan menyandingkan dua perspektif berbeda dalam satu perjalanan etnografi visual,” ucap Evy Gustiana dari ARKOM Indonesia yang merupakan salah satu audiens penayangan Gestures of Care.
Fire Play merupakan proyek penelitian yang fokus pada mempelajari tata kelola kebakaran di Indonesia pasca-kebakaran 2015 yang berfokus pada peran dan inisiatif masyarakat adat Dayak di Kalimantan Tengah.
Proyek penelitian Fire Play ini bertujuan untuk memahami dan mendokumentasikan partisipasi masyarakat adat, yang sebelumnya kerap dianggap sebagai penyebab kebakaran, dalam menjalankan peran mereka sebagai garda terdepan upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan.
Berangkat dari proyek Fire Play, pada tahun 2025 diusulkan proyek lanjutan yang fokus pada sosialisasi hasil penelitian, bertajuk “Fire Play: SPREAD” (Sustaining just-Policy and Recognition through Equitable and Amplifiable Dissemination).
Proyek ini bertujuan untuk menghasilkan luaran yang inklusif dan berorientasi pada kesetaraan gender.
Selain itu, proyek ini juga bertujuan untuk memperkuat peran masyarakat adat dalam pencegahan kebakaran melalui sosialisasi yang kreatif, inklusif, dan berdampak luas.
Penayangan Gestures of Care di JAFF 2025 merupakan upaya sosialisasi hasil penelitian oleh tim Fire Play di Kalimantan Tengah pada tahun 2023-2024 silam, khususnya kepada khalayak umum melalui media audio-visual.
Seusai penayangan di JAFF 2025, Gestures of Care akan ditayangkan di beberapa desa di Kalimantan Tengah, termasuk Kecamatan Mantangai, Pulau Hanaut, Jabiren Raya, Mendawai, serta wilayah Palangka Raya.
Penayangan film di berbagai desa di Kalimantan Tengah bertujuan untuk menjangkau masyarakat desa dan pemangku kepentingan lokal secara lebih luas, mendapatkan umpan balik langsung dari masyarakat, juga untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran publik mengenai peran masyarakat adat dan prinsip kesetaraan gender dalam pencegahan kebakaran hutan melalui media kreatif yang mudah diakses.
Tag
Berita Terkait
-
Gunakan Bahasa Daerah di Film 'Sunda Emperor', Laura Moane Merasa Tertantang
-
Ditipu soal Hubungan Asmara, Gisella Anastasia Suarakan Bahaya 'Love Scamming'
-
Kritik Film 'Esok Tanpa Ibu': AI Tak Akan Pernah Bisa Gantikan Peran Ibu
-
Saskia Chadwick Bintangi Film 'Tolong Saya', jadi Edukasi untuk Pelajar di Luar Negeri
-
Vakum 8 Tahun, Rianti Cartwright Kembali Bintangi Film: Kangen Akting
Terpopuler
-
Dukung Makan Bergizi Gratis, Wamenkop Minta Koperasi Pesantren Pasok Kebutuhan Pangan Lokal
-
Kejar Target 372 Unit Layanan Gizi di Kaltim, BGN Bakal Serap 18.600 Tenaga Kerja Lokal
-
Gerbang Rafah Segera Dibuka, PBB Berharap Bantuan Kargo Bisa Segera Masuk Gaza
-
Coret Pejabat Tinggi, Menteri Haji: Petugas Haji Daerah Maksimal Eselon IV Agar Fokus Melayani
-
Menkes Budi Gunadi Tinjau RSUD Maba, Pastikan Kesiapan Layanan Kesehatan di Halmahera Timur
Terkini
-
5 Merk AC Terbaik yang Cepat Dingin, Awet, dan Hemat Listrik
-
5 Rekomendasi Kulkas Tahan Lama untuk Rumah di 2026
-
Miles Films Rayakan 30 Tahun Lewat Pameran Musik dan Film di Lokananta
-
Kesalahan Umum Karyawan Saat Memulai Usaha Sampingan
-
Ultraverse Festival 2026: Konser "Connected Music" Jakarta-Surabaya-Bali Berkat XL Ultra 5G+