Matamata.com - Kementerian Luar Negeri China menyebut semakin banyak negara yang berminat mempererat kerja sama dengan Shanghai Cooperation Organization (SCO).
"Semakin banyak negara yang mencari dan memperkuat dialog dan kerja sama dengan SCO. Model Keluarga SCO muncul sebagai respons terhadap tren saat ini karena bagi semua negara, model ini menyediakan jalur baru yang fleksibel dan nyaman untuk berpartisipasi dalam bentuk-bentuk baru kerja sama regional dan hubungan internasional," ujar Asisten Menteri Luar Negeri China, Liu Bin, dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (22/8).
Liu mengungkapkan, sedikitnya 22 pemimpin negara dan pemerintahan akan hadir pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) SCO di Tianjin, 31 Agustus–1 September 2025.
SCO awalnya beranggotakan China, Rusia, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan. India serta Pakistan bergabung pada 2017, diikuti Iran pada 2023, dan Belarus pada 2024. Dengan demikian, saat ini SCO memiliki 10 anggota tetap.
Selain itu, SCO juga memiliki dua negara pemantau, yakni Mongolia dan Afghanistan, serta 14 mitra dialog, di antaranya Sri Lanka, Turki, Kamboja, Azerbaijan, Nepal, Armenia, Mesir, Qatar, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Myanmar, Maladewa, dan Uni Emirat Arab. Beberapa negara non-anggota seperti Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, dan Vietnam juga telah mengonfirmasi kehadirannya di KTT mendatang.
"SCO secara alami akan diakui dan didukung oleh semakin banyak negara karena memegang prinsip inklusif yang terbuka dan mau membuka pintu bagi semua negara yang mengakui 'Semangat Shanghai'," kata Liu.
Menurut Liu, SCO berkomitmen untuk mewujudkan multilateralisme yang setara dan berkelanjutan, mendorong globalisasi ekonomi yang inklusif, serta memberi kontribusi positif bagi pembangunan bersama.
"Saat ini, semua negara anggota SCO berada pada tahap pembangunan. Seiring dengan semakin kompleks dan bergejolaknya situasi internasional, negara-negara perlu memperkuat persatuan dan kerja sama untuk mendorong pembangunan bersama," tambahnya.
China, lanjut Liu, akan terus berupaya menjaga tujuan awal organisasi, mempromosikan "Semangat Shanghai", serta menawarkan solusi bagi tata kelola dan reformasi global.
"Konfrontasi yang tidak adil dan memprioritaskan kepentingan sempit di atas kepentingan yang lebih luas pasti akan kehilangan dukungan publik. Kesetaraan dan saling menguntungkan melalui kerja sama adalah jalan yang tepat, karena itu, filosofi kerja sama yang berpusat pada 'Semangat Shanghai' semakin diterima luas," jelasnya.
China saat ini memegang presidensi bergilir SCO periode 2024–2025 dengan tema “Tahun Pembangunan Berkelanjutan SCO”. Selama masa kepemimpinannya, Beijing mendorong berbagai inisiatif, termasuk pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, pembiayaan pembangunan, perubahan iklim, pembangunan hijau, industrialisasi, ekonomi digital, dan konektivitas. (Antara)
Berita Terkait
-
Al-Quran Produksi Indonesia Rambah Pasar Mesir, Kemenag Teken MoU dengan 4 Mitra Strategis
-
Gerbang Rafah Segera Dibuka, PBB Berharap Bantuan Kargo Bisa Segera Masuk Gaza
-
Di Sidang PBB, Rusia Tegaskan Israel Tak Lagi Punya Alasan Blokade Pintu Rafah
-
Tangkis Pernyataan Trump, China Beberkan Data Dominasi Energi Angin Dunia
-
Di Davos, China Janjikan Dukungan Penuh untuk Perdagangan Bebas Global
Terpopuler
-
KBM App Goes to Korea, Nikmatnya Strawberry Raksasa
-
Ketegangan Memuncak! Utusan Trump ke Israel Saat Armada Besar AS Bergerak ke Iran
-
Masih Rendah! Baru 35 Persen Pejabat Lapor Kekayaan, KPK Ingatkan Menteri hingga Kepala Daerah
-
Ingin Jadi Diplomat? Dubes Rusia Ajak Pelajar Indonesia Kuliah di MGIMO lewat Jalur Beasiswa
-
Denada Akui Ressa Rizky sebagai Anak Kandungnya dan Minta Maaf Telah Meninggalkan Sejak Bayi
Terkini
-
Ketegangan Memuncak! Utusan Trump ke Israel Saat Armada Besar AS Bergerak ke Iran
-
Masih Rendah! Baru 35 Persen Pejabat Lapor Kekayaan, KPK Ingatkan Menteri hingga Kepala Daerah
-
Ingin Jadi Diplomat? Dubes Rusia Ajak Pelajar Indonesia Kuliah di MGIMO lewat Jalur Beasiswa
-
Mensesneg: Pengisian Jabatan Kosong OJK Gunakan Jalur PAW, Tak Perlu Timsel
-
MUI Desak Indonesia Mundur dari Board of Peace, Istana: Kami Akan Berdialog