Matamata.com - Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Telaga Kodok, Kecamatan Leihitu, Kota Ambon, Maluku, melaksanakan panen perdana cabai dari demplot yang menggunakan konsep pertanian digital.
“Panen perdana demplot cabai dengan sistem digital farming dilakukan di lahan seluas 0,4 hektare dengan hasil mencapai 2,1 ton,” kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Ilham Tauda, di Ambon, Rabu (12/11).
Ia menjelaskan, penerapan digital farming mencakup sistem penyiraman dan pemupukan otomatis menggunakan alat semprot yang dipasang di tengah lahan.
“Alat semprot ini bekerja sesuai jadwal yang sudah diatur oleh petani,” ujarnya.
Selain itu, terdapat sensor yang berfungsi mendeteksi kebutuhan unsur hara tanah.
Panen perdana tersebut turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, Muhammad Latif, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Cabai yang dipanen merupakan hasil penanaman bersama Gubernur Maluku dan Wali Kota Ambon pada 13 Agustus 2025 melalui gerakan tanam serentak.
Menurut Ilham, secara tampilan dan kualitas, cabai hasil sistem digital farming berbeda dibandingkan metode konvensional.
Sementara itu, Pimpinan BI Maluku, Muhammad Latif, mengaku bersyukur dapat berpartisipasi dalam panen perdana cabai yang menggunakan teknologi pertanian digital tersebut.
Menurut Latif, berdasarkan laporan kelompok tani setempat, penerapan sistem digital mampu meningkatkan hasil panen hingga 50 persen dibandingkan metode konvensional.
BI Maluku, lanjut dia, turut berkontribusi menyediakan sejumlah perangkat, termasuk alat pendeteksi kebutuhan unsur hara tanah.
“Kami akan mengembangkan konsep digital farming tidak hanya di Ambon, tetapi juga di Tual dan Pulau Seram,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan komoditas tersebut diharapkan dapat membantu pengendalian laju inflasi di daerah.
Ketua Komunitas Smart Farming Provinsi Maluku, Rasid, menuturkan penerapan sistem pertanian digital pada lahan seluas 0,4 hektare mampu menghasilkan 2,1 ton cabai dengan masa panen hingga 22 kali. Sementara sistem konvensional hanya menghasilkan sekitar 1,6 ton dengan masa panen 15–18 kali.
Berita Terkait
-
Cegah Gudang Ambles, Bulog Audit Ketat Kapasitas Gudang Sewa untuk Stok Beras Nasional
-
TNI AL Panen 150 Kilogram Ikan di Teluk Ambon, Dukung Ketahanan Pangan Maluku
-
Bulog Siap Serap Jagung Hasil Tanam Polri, Dorong Swasembada Nasional 2025
-
Polri Gelar Panen Raya Jagung 7.153 Ton untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Harga Cabai Rawit Naik, Sementara Sejumlah Komoditas Pangan Turun
Terpopuler
-
Bertanggung Jawab Atas Kondisi Pasar, Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI, Ini Kata Airlangga
-
Wapres Gibran Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Pastikan Pendidikan dan RS Beroperasi
-
KPK Periksa Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji Rp1 Triliun
-
Kadiv Humas: Loyalitas Polri di Bawah Presiden Harga Mati untuk Pembangunan Bangsa
-
Kemenhaj Tindak Tegas Petugas Haji Tak Layak, Enam Peserta Dicopot Akibat Indisipliner
Terkini
-
Bertanggung Jawab Atas Kondisi Pasar, Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI, Ini Kata Airlangga
-
Wapres Gibran Tinjau Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang, Pastikan Pendidikan dan RS Beroperasi
-
KPK Periksa Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji Rp1 Triliun
-
Kadiv Humas: Loyalitas Polri di Bawah Presiden Harga Mati untuk Pembangunan Bangsa
-
Kemenhaj Tindak Tegas Petugas Haji Tak Layak, Enam Peserta Dicopot Akibat Indisipliner