Matamata.com - Pemerintah membuka peluang penerapan bea keluar untuk ekspor batu bara mulai 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan lintas kementerian.
“Sedang dibicarakan, mungkin tahun depan (diimplementasikan),” ujar Purbaya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu.
Menurutnya, potensi kebijakan ini muncul karena kontribusi penerimaan negara dari ekspor batu bara dinilai masih lebih rendah dibanding komoditas lain, seperti minyak dan gas bumi. Ia juga menyinggung skema kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) sektor migas pada masa sebelumnya sebagai pembanding.
“Kalau PSC zaman dulu, kontrak sharing itu kan 85:15. 85 untuk pemerintah, 15 untuk (perusahaan) minyak. Batu bara kan lebih kecil dari itu. Ini masih bisa ditingkatkan lagi tanpa mengganggu industrinya itu sendiri,” kata dia.
Meski begitu, Purbaya memastikan bahwa rencana pengenaan bea keluar batu bara tidak akan mengurangi daya saing di pasar global. Dampak utama, katanya, kemungkinan hanya terjadi pada margin keuntungan pelaku usaha.
“Nggak (kemungkinan batu bara Indonesia tidak kompetitif). Hanya untuk mereka (pelaku industri) saja nanti yang lebih sedikit. Kalau dia (pelaku industri) naikin harga, ya nggak laku (nanti),” tambahnya.
Rencana bea keluar batu bara muncul bersamaan dengan kebijakan serupa untuk emas yang juga ditargetkan berlaku pada 2026. Pemerintah berharap kebijakan ini mampu meningkatkan penerimaan negara.
Untuk komoditas emas, Purbaya memperkirakan potensi tambahan pendapatan negara berada pada kisaran Rp2 triliun hingga Rp6 triliun per tahun.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menambahkan bahwa pemerintah telah menyepakati rentang tarif bea keluar emas sebesar 7,5 hingga 15 persen. Kebijakan tersebut ditujukan memperkuat penerimaan negara sekaligus mendorong hilirisasi.
Ia menyebutkan, aturan teknis berupa Peraturan Menteri Keuangan (PMK) akan segera diterbitkan mengingat bea tersebut merupakan mandat Undang-Undang APBN 2026. (Antara)
Berita Terkait
-
Menkeu Purbaya: Fokus Ekonomi RI Bergeser ke Pertumbuhan Produktif dan Berkelanjutan
-
Menkeu Purbaya Percepat Rekrutmen Bea Cukai Lulusan SMA, Targetkan Buka April Ini
-
Menkeu Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik Hingga Akhir 2026
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Menkeu Buka Peluang Defisit APBN 2026 Melebar di Atas 3 Persen
Terpopuler
-
KPK: Lemahnya Kaderisasi Parpol Picu Praktik Mahar Politik dan Korupsi
-
Seskab Teddy dan Dirut KAI Pastikan Proyek Hunian Warga Pinggir Rel Senen Rampung Juni
-
Karakter Kuat Rio Dewanto di Sinetron 'Jejak Duka Diandra', Digandrungi Penonton
-
Kemenkes Percepat Sertifikasi Higiene 26 Ribu Dapur Gizi di Seluruh Indonesia
-
Yusril Ihza Mahendra Tegaskan Pemerintah Terbuka terhadap Kritik Tajam Akademisi
Terkini
-
KPK: Lemahnya Kaderisasi Parpol Picu Praktik Mahar Politik dan Korupsi
-
Seskab Teddy dan Dirut KAI Pastikan Proyek Hunian Warga Pinggir Rel Senen Rampung Juni
-
Kemenkes Percepat Sertifikasi Higiene 26 Ribu Dapur Gizi di Seluruh Indonesia
-
Yusril Ihza Mahendra Tegaskan Pemerintah Terbuka terhadap Kritik Tajam Akademisi
-
KPK Dorong Reformasi Politik, Serahkan Rekomendasi Tata Kelola Parpol ke Presiden dan DPR