Matamata.com - Tim penasihat hukum mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim, mempertimbangkan untuk menghadirkan pihak Google sebagai saksi dalam persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook.
Langkah ini diambil untuk mengklarifikasi tudingan jaksa mengenai aliran dana dan investasi yang disebut-sebut berkaitan dengan keuntungan pribadi Nadiem.
"Tentunya ini penting sekali karena Google adalah pihak yang selalu disebut memberikan keuntungan kepada Nadiem. Google sendiri sudah menyampaikan pernyataan resmi mereka," ujar penasihat hukum Nadiem, Ari Yusuf Amir, dalam wawancara usai agenda putusan sela di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (12/1/2026).
Ari menegaskan bahwa surat resmi dari Google yang sebelumnya dibacakan di persidangan menunjukkan tidak adanya niat jahat (mens rea) dalam peran perusahaan tersebut pada proyek digitalisasi pendidikan ini.
Bantah Aliran Dana Investasi Terkait dakwaan jaksa mengenai aliran dana Rp809 miliar, Ari membantah uang tersebut mengalir ke rekening pribadi kliennya sebagai keuntungan korupsi. Ia menyebut investasi Google di GoTo murni urusan korporasi.
"Dana investasi itu kembali seutuhnya ke PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB). Catatannya jelas dan tidak bisa direkayasa. Tidak ada hubungannya dengan Google maupun kementerian," tegas Ari.
Dalam perkara ini, Nadiem didakwa melakukan korupsi program digitalisasi pendidikan berupa pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) pada periode 2019-2022. Jaksa menyebut perbuatan tersebut merugikan keuangan negara hingga Rp2,18 triliun.
Dakwaan merinci kerugian negara terdiri dari Rp1,56 triliun dari program digitalisasi pendidikan dan sekitar Rp621,39 miliar dari pengadaan CDM yang dinilai tidak bermanfaat.
Terkait LHKPN Rp5,59 Triliun Jaksa menduga Nadiem menerima Rp809,59 miliar melalui PT Gojek Indonesia, yang sumber dananya disebut berasal dari investasi Google di PT AKAB. Jaksa juga menyoroti lonjakan kekayaan Nadiem dalam LHKPN tahun 2022, di mana ia tercatat memiliki surat berharga senilai Rp5,59 triliun.
Nadiem didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam kasus ini, Nadiem didakwa bersama tiga orang lainnya, yakni Ibrahim Arief, Mulyatsyah, dan Sri Wahyuningsih, serta satu tersangka yang masih buron, Jurist Tan. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Ahok Pastikan Hadir Jadi Saksi Sidang Kasus Korupsi Minyak Mentah Rp285 Triliun
-
Buntut Pengakuan Gratifikasi, Pengacara Nadiem Makarim Laporkan 3 Saksi ke KPK
-
Nasib Nadiem Makarim Ditentukan Hari Ini: Hakim Bacakan Putusan Sela Kasus Korupsi Chromebook Rp2,1 Triliun
-
Kasus Korupsi Laptop Kemendikbud: Jaksa Bidik Aset Tanah dan Bangunan Nadiem Makarim
-
Sidang Perdana Korupsi Digitalisasi Pendidikan, Nadiem Makarim Didakwa Rugikan Negara Rp2,18 Triliun
Terpopuler
-
Wakapolri Imbau Pemudik Hubungi Hotline 110 Jika Alami Gangguan di Jalan
-
Menko AHY: Tata Ruang Adalah Panglima dalam Pembangunan Infrastruktur
-
Saudi Kedepankan Diplomasi Redakan Eskalasi di Timur Tengah, Jamin Keamanan Haji
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Stok Beras Melimpah, Mentan Amran Lapor ke Presiden Prabowo Capaian PDB Pertanian Tertinggi dalam 25 Tahun
Terkini
-
Wakapolri Imbau Pemudik Hubungi Hotline 110 Jika Alami Gangguan di Jalan
-
Menko AHY: Tata Ruang Adalah Panglima dalam Pembangunan Infrastruktur
-
Saudi Kedepankan Diplomasi Redakan Eskalasi di Timur Tengah, Jamin Keamanan Haji
-
Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam Milik Bangsa, Pengusaha Batu Bara dan CPO Wajib Utamakan Kebutuhan Domestik
-
Stok Beras Melimpah, Mentan Amran Lapor ke Presiden Prabowo Capaian PDB Pertanian Tertinggi dalam 25 Tahun