Elara | MataMata.com
Presiden Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese (kiri) usai menandatangani Traktat mengenai keamanan saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Kunjungan kenegaraan Anthony Albanese di Istana Kepresidenan Jakarta tersebut untuk menandatangani Traktat Australia-Indonesia mengenai keamanan bersama serta kerjasama bidang perdagangan dan investasi, pendidikan, pembangunan. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/pri.

Matamata.com - Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai hingga saat ini belum muncul figur yang sepadan untuk menjadi penantang Presiden Prabowo Subianto pada Pemilu 2029. Hal ini didasarkan pada tingkat penerimaan publik yang masih tinggi terhadap kepemimpinan dan program-program pemerintah saat ini.

"Prabowo hingga saat ini masih diterima dengan baik. Program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat disukai masyarakat," ujar Hendri Satrio, atau yang akrab disapa Hensa, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI ini memaparkan dua alasan utama di balik penilaiannya. Pertama, respons masyarakat terhadap kepemimpinan Prabowo cenderung positif karena program yang dirasakan langsung dampaknya. Kedua, belum adanya figur alternatif atau mesin politik oposisi yang mulai memanas.

"Bahkan, oposisi seperti PDI Perjuangan pun belum terlihat ada geliat untuk memunculkan jagoannya hingga hari ini," lanjutnya.

Strategi Cawapres 2029 Alih-alih soal rivalitas Capres, Hensa menilai diskusi yang lebih menarik justru terletak pada siapa yang akan mendampingi Prabowo. Menurutnya, pilihan pendamping akan menentukan stabilitas pemerintahan sekaligus peta kompetisi pemilu berikutnya.

Ia menyodorkan tiga opsi kriteria Cawapres ideal bagi Prabowo: berasal dari internal Partai Gerindra, tokoh non-partai politik, atau sosok yang tidak memiliki ambisi maju sebagai capres di masa depan.

"Pak Prabowo akan rugi jika memilih Cawapres dari partai lain, karena itu sama saja memberikan panggung bagi partai lain untuk bersinar di lingkar koalisi," jelas Hensa.

Selain itu, ia mewanti-wanti risiko memilih pendamping yang memiliki ambisi politik besar. Menurutnya, figur yang terlalu berambisi menjadi capres cenderung sibuk membangun panggung pribadi ketimbang fokus membantu tugas-tugas kepresidenan.

Catatan untuk Gibran Saat disinggung mengenai peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk kembali mendampingi Prabowo, Hensa memberikan catatan kritis. Ia berpendapat, jika Gibran memiliki orientasi politik untuk maju sebagai calon presiden pada 2034, hal itu bisa menjadi pertimbangan bagi Prabowo untuk mencari alternatif lain.

"Kalau Gibran memiliki ambisi menjadi capres pada 2034, sebaiknya Prabowo mempertimbangkan kembali pilihannya (untuk mendampingi lagi)," pungkas Hensa. (Antara)

Load More