Matamata.com - Pemerintah diminta segera mengambil langkah strategis lintas kementerian untuk mengantisipasi dampak dinamika geopolitik global terhadap stabilitas ekonomi nasional. Hal ini merespons meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pengamat ekonomi regional, Dr. James Adam, menegaskan bahwa koordinasi pemerintah harus dilakukan sejak dini agar respon kebijakan bisa cepat dan tepat sasaran.
“Antisipasi harus dilakukan sejak dini, bukan menunggu dampak membesar baru bertindak. Koordinasi lintas kementerian dan pemantauan ekonomi global secara real-time menjadi kunci,” ujar James kepada ANTARA di Kupang, Senin (2/3).
James menjelaskan, ketidakpastian global akibat konflik tersebut berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan, sektor energi, hingga arus keuangan internasional. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan perlu diperkuat untuk meredam gejolak eksternal.
Menurutnya, skema kebijakan ekonomi yang adaptif sangat diperlukan untuk menjaga kondisi perekonomian nasional. Langkah konkret yang bisa diambil meliputi penguatan cadangan energi, pengendalian inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, hingga proteksi terhadap sektor produktif yang rentan.
Ancaman Rantai Pasok dan Harga BBM James menambahkan, perang di Timur Tengah dipastikan berdampak pada ekonomi global karena terganggunya jalur perdagangan internasional. Indikasi awal bahkan sudah terlihat dari adanya pembatalan atau penundaan sejumlah penerbangan internasional.
“Jika perang berlanjut, distribusi barang dan jasa akan terhambat. Meskipun secara geografis Indonesia jauh, dampak pada ekspor-impor pasti terasa karena sistem distribusi yang tertunda,” jelasnya.
Sektor energi menjadi perhatian utama. James memperingatkan bahwa gangguan produksi dan distribusi akan memicu lonjakan harga minyak dunia. Jika hal ini terjadi, harga minyak di dalam negeri berpotensi mengalami penyesuaian jika tidak ada intervensi subsidi.
Kenaikan harga minyak ini diprediksi akan memicu efek domino pada komoditas lain.
"Jika harga minyak naik, maka harga emas dan kebutuhan pokok lainnya ikut terangkat. Hal ini terjadi karena rantai pasok terganggu akibat kenaikan biaya produksi (cost of production) dan biaya distribusi," pungkas James. (Antara)
Berita Terkait
-
Harga Pertamax Naik Per 10 Juni 2026, Ini Insentif yang Disiapkan Pemerintah
-
Kompak Irit Bicara, Luhut dan Chatib Basri Tiba-Tiba Datangi Prabowo di Istana, Ada Apa?
-
SBY: UMKM Kunci Ketahanan Ekonomi Hadapi Ketidakpastian Global 2026
-
Mendagri Minta Pemda Waspadai Dampak Geopolitik terhadap Ekonomi Daerah
-
Wamendag Roro Esti Bidik Peningkatan Kerja Sama Ekonomi RI-Rusia, Targetkan FTA Rampung 2026
Terpopuler
-
Syarief Khan akan Laporkan Selebgram ke Polisi, terkait Dugaan Pencemaran Nama Baik dan Intimidasi
-
Menteri HAM Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Bukan Pelanggaran HAM
-
HIPMI Siap Jadi Jembatan Investasi dan Kolaborasi Bisnis Indonesia-Jerman
-
Bintangi Film 'Maju: Jejak Pahit si Kembang Gula', Sarah Sechan Merasa Miris soal Peredaran Narkoba
-
China Dukung Kesepakatan Damai AS-Iran dan Pembukaan Selat Hormuz
Terkini
-
Menteri HAM Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Bukan Pelanggaran HAM
-
HIPMI Siap Jadi Jembatan Investasi dan Kolaborasi Bisnis Indonesia-Jerman
-
China Dukung Kesepakatan Damai AS-Iran dan Pembukaan Selat Hormuz
-
Wamentan Sudaryono Klarifikasi Insiden UGM, Bantah Kabur dari Forum Dialog Mahasiswa
-
MK Targetkan Putusan Gugatan Anggaran Makan Bergizi Gratis Rampung Juli 2026